#under_header{ margin:10px 0; padding:1%; width:98%; }
Tampilkan postingan dengan label SOSIOLOGI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SOSIOLOGI. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Oktober 2009

KARAKTER KEPEMIMPINAN



Oleh:
Zusiana Elly Triantini M.SI
Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

KARAKTER KEPEMIMPIAN
Pada dasarnya karakter ada 3 karakter kepemimpinan :
  1. Otoriter : Intruksi dari atas sehingga anggota hanya diberitahu langkah-langkah kegiatan
  2. Demokratis : Menggunakan cara musyawarah untuk mencapai mufakat dan akan selalu memberikan penghargaan dan kritik secara obyektif
  3. Laissez Faire :Menjalankan peran sebagai pemimpin yang pasif dan segala penentuan tujuan dan program diserahkan kepada angotanya.

KARAKTER KEPEMIMPINAN (lanjutan)
Menurut Koontz, O’Donnell dan Weihrich
  • Otokratik/Otoriter
  • Demokratik atau Partisipatif
  • Free rein (fasilitator)
GAYA KEPEMIMPINAN
Menurut Stoner
Task Oriented
pengarahan dan pengawasan yang ketat agar bekerja sesuai harapan
Employee Oriented
mendorong dan memotivasi agar bawahan bekerja dengan baik
Task Oriented Employee Oriented


Faktor-faktor yang mempengaruhi gaya kepemimpinan seseorang
  • Karakteristik Pimpinan
Latar belakang pendidikan, pengalamannya, nilai-nilai yang dianutnya, dsb
  • Karakteristik Anggota
Kemampuan Anggota tinggi = Partisipatif
Kemampuan anggota rendah = Otokratik
  • Karakteristik Organisasi
Fungsi dari organisasi, budaya kerja organisasi, dsb

Menurut WJ. Reddin ada 3 gaya kepemimpinan apabila dilhat dari orientasinya:
  1. Task Oriented : Kepeminpinan yang berorientasi pada tugas
  2. Relationship Oriented : Kepemimpinan yang berorientasi pada hubungan kerjasama
  3. Effectiveness Oriented : Kepemimpinan yang berorintasi pada hasil
Klasifikasi Gaya Kepemimpinan
  1. The Deserter : gaya kepemimpinan yang hanya sedikit memiliki ketiga orientasi kepemimpinan atau tidak sama sekali
  2. The Bureaucrat : gaya kepemimpinan yang hanya berorientasi paa hasil dengan orientasi tugas yang rendah
  3. The Missionary : gaya kepemimpinan yang hanya berorientasi membangun jalinan kerja sama dengan orientasi kerja yang rendah
  4. The Development : gaya kepemimpinan yang berorientasi pada hasil dan jalinan kerja sama yang tinggi tetapi orientasi tugasnya rendah
  5. The Autocrat : gaya kepemimpinan yang hanya berorientasi pada tugas, sementra orientasi lainnya rendah
  6. The Benevolent Autocrat : gaya kepemimpinan yang berorientasi pada hasil dan tugas yang tinggi, sedangkan orientasi jalinan kerjanya rendah
  7. The Compromiser : gaya kepemimpinan yang kurang berorientasi pada hasil, tetapi mempunyai orientasi tugas dan jalinan kerja sama yang memadai
  8. The Executive : gaya kepemimpinan yang memiliki ketiga orientasi kepemimpinan
Continue Reading...

TEORI-TEORI PEMBANGUNAN TEORI PEMBANGUNAN DUNIA KETIGA


TEORI-TEORI PEMBANGUNAN
TEORI PEMBANGUNAN DUNIA KETIGA
Yang dimaksud dengan teori pembangunan dunia ketiga adalah teori-teori pembangunan yang berusaha menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh negera-negara miskin atau negara-negara sedang yang sedang berkembang dalam sebuah dunia yang didominasi oleh kekuatan ekonomi, ilmu pengetahuan dan militer negara-negara adikuasa atau negara-negara industri maju.
TEORI PEMBANGUNAN DUNIA KETIGA…………
  • Memiliki perbedaan dan persamaan dengan teori pembangunan bagi negara-negara adikuasa, karena persoalan yang dihadapinya berlainan.
  • Bagi negara-negara dunia ketiga, persoalannya adalah bagaimana bertahan hidup atau bagaimana meletakkan dasar-dasar ekonominya supaya bis abersaing di pasar internasional
  • Bagi negara-negara adikuasa persolannya adalah bagaimana melakukan ekspansi lebih lanjut bagi kehidupan ekonominya yang sudah mapan
TEORI PEMBANGUNAN DUNIA KETIGA…………
Ada 3 kelompok teori yang dibahas :
1. Teori modernisasi. Menekankan faktor manusia dan nilai-nilai budanya sebagai pokok persoalan dalam pembangunan. Teori modernisasi merupakan kelompok teori yang dominan dalam mengkaji masalah pembangunan di Indonesia

2. Teori ketergantungan. Teori ini merupakan reaksi terhadap teori modernisasi. Teori ini mula-mula tumbuh di kalangan para ahli ilmu sosial di Amreika Latin kemudian meluas sampai ke Amerika Serikat dan Eropa dan Asia. Teori ini dipengaruhi oleh metoda analisis Marxis.
3. Teori yang merupakan reaksi terhadap teori ketergantungan. Teori ini sering disebut sebagai teori pasca ketergantungan. Di dalamnya ada teori sistem dunia, teori artikulasi dsb.
BAGAIMANA MENGUKUR PEMBANGUNAN?
  1. Kekayaan rata-rata
  2. Pemerataan
  3. Kualitas kehidupan
  4. Kerusakan lingkungan
  5. Keadilan Sosial dan kesinambungan

1. Kekayaan rata-rata
  • Pembangunan dimaknai dalam arti pertumbuhan ekonomi. Sebuah masyarakat dinilai berhasil melaksanakan pembangunan bila pertumbuhan ekonomi masyarakat tersebut cukup tinggi.
  • Jadi yang diukur adalah produktivitas masyarakat atau negara tersebut tiap tahunnya.
  • Dalam bahasa teknis ekonominya GNP (Gross National Product ) dan PDB atau GDP (Product Domestik Bruto atau Gross Domestic Product)
  • Pembangunan di sini diartikan sebgai jumlah kekayaan keseluruhan sebuah bangsa atau negara
2. Pemerataan
Bangsa atau negara yang berhasil melakukan pembangunan adalah mereka yang di samping tinggi produktivitasnya, penduduknnya juga makmur dan sejahtera secara relatif merata
Tidak semua negara yang berhasil meningkatkan PNB/kapitanya berhasil juga dalam meratakan hasil-hasil pembangunannya. Demikian juga tidak semua negara yang masih rendah PNB/kapitanya menunjukkan ketimpangan yang tinggi dalam hal pemerataan
3. Kualitas kehidupan
Salah satu cara lain untuk mengukur kesejahteraan penduduk sebuah negara adalah dengan menggunakan tolok ukur PQLI (Physical Quality of Life Index ). Tolok ukur ini dipekrnalkan oleh Moris yang mengukur tiga indikator yaitu : 1) rata-rata harapan hidup setelah umur satu tahun ; 2) rata-rata jumlah kematian bayi ; 3) rata-rata prosentasi buta dan melek huruf
4. Kerusakan Lingkungan
  • Sebuah negara yang tinggi produktivitasnya dan merata pendapatan penduduknya, bisa saja berada dalam sebuah proses untuk menjadi miskin. Hal ini misalnya, pembangunan yang menghasilkan produktivitas yang tinggi itu tidak mempedulikan dampak terhadap lingkungannya. Lingkungannya semakin rusak.
  • Kriteria keberhasilan pembangunan yaitu faktor kerusakan lingkunagan sebagai faktor yang menentukan.
5. Keadilan sosial dan kesinambungan
Pembangunan yang berhasil mempunyai unsur :
  1. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi
  2. Berkesinambungan : tidak terjadi kerusakan sosial dan alam
Jadi, konsep pembangunan semakin kompleks, tidak hanya terbatas pada masalah pertumbuhan ekonomi saja, tetapi juga meliputi masalah sosial dan lingkungan
PEMBANGUNAN : FAKTOR MANUSIANYA
Pembangunan mempunyai dua unsur utama :
  1. Masalah materi yang mau dihasilkan dan dibagi
  2. Masalah manusia yang menjadi pengambil inisiatif yang menjadi manusia pembangunan
Pembangunan tidak hanya berurusan dengan produksi dan distribusi barang-barang material tetpai pembangunan juga harus menciptakan kondisi-kondisi yang membuat manusia bisa mengembangkan kreatifitasnya
PEMBANGUNAN : FAKTOR MANUSIANYA
Pembangunan pada akhirnya harus ditujukan pada pembangunan manusia. Manusia yang dibangun adalah manusia yang kreatif. Untuk bisa kreatif, manusia tersebut harus merasa bahagia, merasa aman dan bebas dari rasa takut. Hanya manusia seperti inilah yang bisa menyelenggarakan pembangunan dan memecahkan masalah yang dijumpainya.
TEORI MODERNISASI : PEMBANGUNAN SEBAGAI MASALAH INTERNAL
  • Teori pembangunan kerja secara Internasional yang didasarkan pada teori keuntungan komparatif yang dimiliki oleh setiap negara mengakibatkan terjadinya spesialsiasi produksi pada tiap-tipa negara sesuai dengan keuntungan komparatif yang dimilikinya.
  • Secara umum, di dunia ini terdapat dua kelompok negara : 1) negara yang memproduksi hasil pertanian ; 2) negara yang memproduksi barang industri.
  • Antara kedua keolmpok negara ini terjadi hubungan dagang dan keduanya menurut teori di atas saling diuntungkan

TEORI MODERNISASI : PEMBANGUNAN SEBAGAI MASALAH INTERNAL….
  • Tetapi setelah beberapa puluhan tahun kemudian, tampak bahwa negara-negara industri menajdi semakin kaya sedangkan negara-negara pertanian semakin tertinggal.
  • Mengapa terjadi dua kelompok negara : negara-negara miskin yang biasanya meruapakan negara pertanian dan negara-negara kaya yang biasanya adalah negara industri??
TEORI MODERNISASI : PEMBANGUNAN SEBAGAI MASALAH INTERNAL….
  • Teori modernisasi . Teori yang menjelaskan bahwa kemiskinan ini disebabkan oleh faktor-faktor internal atau faktor-faktor yang terdapat di dalam negeri negara yang bersangkutan.
  • Teori ketergantungan . Teori ini menjelaskan bahwa kemiskinan di suatu negara disebabkan karena faktor eksternal. Kemiskinan dilihat sebagai akibat dari bekerjanya kekuatan-kekuatan luar yang menyebabkan negara yang bersangkutan gagal melakukan pembangunannya
TEORI MODERNISASI : PEMBANGUNAN SEBAGAI MASALAH INTERNAL….
Teori Harrod – domar : tabungan dan Investasi
Evsey Domar dan Roy Harrod, kedua ahli ekonomi ini mencapai kesimpulan bahwa pertumbuhan ekonomi ditentukan oleh tingginya tabungan dan investasi. Kalau tabungan dan investasi rendah, pertumbuhan ekonomi masyarakat atau negara tersebut juga akan rendah.
Masalah pembangunan pada dasarnya merupakan masalah menambahkan investasi modal. Masalah keterbelakangan adalah masalah kekeurangan modal. Kalau ada modal dan modal tersebut diinvestasikan, hasilnya adalah pembangunan ekonomi
2. Marx Weber : Etika Protestan
  • Weber mempersoalkan masalah manusia yang dibentuk oleh nilai-nilai budaya di sekitarnya, khususnya nilai-nilai agama.
  • Weber membahas peran agama sebagai faktor yang menyebabkan munculnya kapitalisme di Eropa barat dan Amerika Serikat. Pembahasan ini ada dalam bukunya : The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism
  • Dalam bukunya Weber mencoba menjawab mengapa beberapa negara di Eropa dan Amerika Serikat mengalami kemajuan ekonomi yang pesat di bawah sistem kapitalisme. Setelah melakukan analisis, Weber menyimpulkan bahwa salah satu sebabnya adalah adanya Etika protestan
2. Marx Weber : Etika Protestan….
Etika protestan lahir di Eropa melalui agama Protestan yang dikembangkan oleh Calvin. Di sini muncul ajaran bahwa seseorang itu sudah ditakdirkan sebelumnya untuk masuk surga atau neraka. Tetapi orang yang bersangkutan tentu saja tidak mengetahuinya. Oleh karen itu, mereka menjadi tidak tenang, menjadi cemas karena tidakjelasan nasibnya ini.

Salah satu cara untuk mengetahui apakah mereka akan masuk surga atau neraka adalah keberhasilan kerjanya di dunia yang sekarang ini. Kalau seseorang berhasil dalam kerjanya di dunia, hampir dapat dipastikan bahwa dia akan ditakdirkan untuk naik ke surga setelah dia mati nanti. Kalau kerjanya selalu gagal di dunia, hampir dapat dipastikan bahwa dia akan pergi ke neraka

Adanya kepercayaan ini membuat orang-orang penganut agama Protestan Calvin bekerja keras untuk meraih sukses. Mereka bekerja tanpa pamrih, artinya mereka bekerja bukan untuk mencari kekayaan material melainkan untuk mengatasi kecemasannya. Inilah yang disebut sebagai etika Protestan oleh Weber, yakni cara bekerja yang keras dan sungguh-sungguh lepas dari imbalan materialnya.
David Mc Clelland : Need for Achievment
  • Adanya N- Ach yang tinggi dalam sebuah masyarakat akan mengakibatkan pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat
  • N-Ach ini semacam virus yang bisa ditularkan. Jadi, N-Ach ini bukanlah sesuatu yang diawriskan sejak lahir.
  • David Mc Clelland menyelenggarakan bermacam latihan manajemen di pelbagai negara untuk menumbuhkan N- Ach ini.
  • Tempat yang paling baik untuk memupuk N –Ach adalah di dalam keluarga melalui orang tua. Pendidikan anak menjadi sangat penting, cerita anak-anak yang beredar harus diarahkan pada nilai N –Ach yang tinggi.
W.W. Rostow: Lima tahap Pembangunan
  1. Dalam bukunya “The Stage of Economic Growth “, A Non Communist Manifesto, Rostow menguraikan teorinya tentang proses pembangunan dalam sebuah masyarakat.
  2. Bagi Rostow, pembangunan merupakan proses yang bergerak dalam sebuah garis lurus, yakni dari masyarakat yang terbelakang ke masyarakat maju.
W.W. Rostow: Lima tahap Pembangunan
Rostow membagi proses pembangunan menajdi lima tahap yaitu :
  1. Masyarakat tradisional
  2. Pra kondisi untuk lepas landas
  3. Lepas landas
  4. Bergerak ke kedewasaan
  5. Jaman Konsumsi masal yang tinggi
Teori Rostow ini didasarkan pada dikotomi masyarakat tradisonal dan masyarakat modern. Titik terpenting dalam gerak kemajuan dari masyarakat yang satu ke lainnya adalah periode lepas landas
Bert F. Hoselitz : Faktor-faktor Non ekonomi
  • Faktor non ekonomi di sini adalah faktor kondisi lingkungan yang dianggap penting dalam proses pembangunan
  • Hoselitz menekankan bahwa meskipun seringkali orang menunjukkan bahwa masalah utama pembangunan adalah keurangan modal (teori Harrod – Domar ), ada masalah lain yang juga sangat penting yakni adanya ketrampilan kerja tertentu, termasuk tenaga wiraswasta yang tangguh. Karena itu dibutuhkan perubahan kelembagaan pada masa sebelum lepas landas, yang akan mempengaruhi pemasokan modal, supaya mdoal ini bisa menajdi produktif.

Bert F. Hoselitz : Faktor-faktor Non ekonomi….
Perubahan kelembagaan ini akan menghasilkan tenaga wiraswasta dan administrasi serta ketrampilan teknis dan keilmuan yang dibutuhkan
Menurut Hoselitz, pembangunan membutuhkan pmasokan dari beberapa unsur, seperti :
  1. Pemasokan modal besar dan perbankan
  2. PEmasokan tenaga ahli dan terampil

Alex Inkeles dan David H . Smith : Manusia Modern
  • Membicarakan tentang pentingnya faktor manusia sebagai komponen penting penopang pembangunan.
  • Pembangunan bukan sekedar perkara pemasokan modal dan teknologi saja, tetapi dibutuhkan manusia yang dapat mengembangkan sarana material tersebut supaya menjadi produktif. Untuk ini dibutuhkan manusia modern.
Alex Inkeles dan David H . Smith : Manusia Modern….
Manusia modern yang dimaksud adalah antara lain memiliki :
  1. Keterbukaan terhadap pengalaman dan ide baru
  2. Berorientasi ke masa sekarang dan masa depan
  3. Punya kesanggupan merencanakan
  4. Percaya bahwa manusia bisa mengausai alam dan bukan sebaliknya

Alex Inkeles dan David H . Smith : Manusia Modern….
Untuk mengubah manusia agar bisa menjadi manusia modern bisa melalui :
  1. Pendidikan
  2. Pengalaman kerja di lembaga kerja modern
  3. Pengenalan terhadap media massa
ALIRAN TEORI MODERNISASI
  1. Teori yang menekankan bahw apembangunan hanya merupakan amsalah penyediaan modal untuk investasi (harood – Domar)
  2. Teori yang menekankan aspek-aspek psikologi individu ( David Mc Clelland)
  3. Teori yang menekankan nilai-nilai budaya (Weber)
  4. Teori yang menekankan adanya lembaga-lembaga sosial dan politik yang mendukung proses pembangunan sebelum lepas landas dimulai (Hoselitz)
  5. Teori yang menekankan lingkungan material (Inkeles dan Smith)
CIRI UMUM TEORI MODERNISASI
  • Didasarkan pada dikotomi antara tradisional (belum maju) dan modern (maju)
  • Didasarkan pada faktor-faktor non material sebagai penyebab kemiskinan
  • Bersifat a historis. Hukum-hukumnya sering dianggap berlaku secara universal
  • Faktor-faktor yang mendorong atau menghambat pembangunan harus dicari di dalam negara-negara yang bersangkutan, bukan di dalamnya.
sumber gambar : http://bigcbigc.deviantart.com
Continue Reading...

PENGANTAR TEORI PEMBANGUNAN


PERTEMUAN PERTAMA PENGANTAR TEORI PEMBANGUNAN

Dalam dua warsa terakhir “development” nyaris menjadi agama baru. Istilah “development” tersebar dan digunakan sebagai visi, teori, proses yang diyakini rakyat di hampir semua negara khususnya di dunia ketiga. Di indonesia “development” diterjemahkan menjadi pembangunan serta menjadi wacana yang dominan dan erat kaitannya dengan orde baru. Pembangunan selain menjadi semboyan juga menjadi kabinet ORBA
PENGANTAR
Konsep dasar pembangunan sangat rumit, dapat dipakai dalam banyak konteks. Ada banyak kata yang mempunyai makna sama dengan pembangunan, misalnya : perubahan sosial, pertumbuhan, progress dan modernisasi. Kata pembangunan tergantung pada konteks siapa yang menggunakan dan untuk kepentingan apa.
What’s the meaning of Development?
Pembangunan dapat diartikan dari beberapa aspek. Merujuk dari beberapa literatur, pembangunan adalah upaya yang terkait dengan :
  1. Peningkatan taraf hidup
  2. Pendapatan yang meningkat
  3. Penguasaan atas alam
  4. Pengendalian manusia atas lingkungan
  5. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan merata
  6. Pengurangan dan penghapusan kemiskinan
  7. Pemenuhan kebutuhan dasar
  8. Mengejar ketinggalan dari negara maju (IPTEK)
  9. Bebas dari ketergantungan
  10. Kebebasan ekonomi dan kemandirian
  11. Pemberdayaan dan pembebasan umat manusia dari penindasan
So, The Meaning of Development?
  • Pembangunan adalah sebagai upaya dari berbagai bidang untuk kemaslahatan masyarakat.
  • Atau bisa juga dikatakan bahwa pembangunan adalah sebagai jalan semua insan untuk mencapi UTOPIA atau impian

SKETSA TEORI PEMBANGUNAN
  1. Teori Evolusi : mendasarkan pada asumsi tentang perubahan yaitu bahwa perubahan dilihat sebagai : 1) natural ; 2) Direksional ; 3) imanen ; 4) Kontinyu ; 5) suatu keharusan ; 6 ) berjalan melalui sebab universal yang sama
  2. Teori struktural functionalism : memandang masyarakat sebagai sistem yang terdiri atas bagian yang saling berkaitan (agama, pendidikan, struktur politik sampai dengan rumah tangga). Masing-masing bagian secara terus-menerus mencari equilibrium (kesemimbangan ) dan harmoni
3. Teori modernisasi : transformasi secara menyeluruh masyarakat tradisonal (pra modern ) menjadi masyarakat yang corak teknologi dan organsiasi sosialnya seperti yang terdapat di negara barat yang maju, makmur dalam segi ekonomi dan realtif stabil dalam segi politik
4. Human capital Theory : Keterbelakangan masyarakat dianggap bersumber pada faktor-faktor intern negara atau masyarakat itu sendiri. Teori ini mengandalkan pada “economic return of invesment” dalam bidang pendidikan.
5. Teori Konflik. Teori ini lebih mendasarkan pada konflik (seperti revolusi, eksploitasi, kolonialisme, dependency, konflik kelas dan rasial). Marx : masyarakat terpolarisasi dalam 2 kelas yang selalu berkonflik yaitu kelas yang mengeksploitasi dan yang dieksploitasi
6. Depedency Theory. Asumsinya bahwa keterbelakangan dan pembangunan adalah konsep yang saling berkaitan. Konsep ini akarnya dari adanya eksploitasi (Marx)
SKETSA TEORI PEMBANGUNAN….
7. Teori liberalisasi. Asumsinya , masyarakat terbelakang disebabkan karena ditindas oleh pemegang kekuasan dalam masyarakat mereka sendiri, yang mengontrol sumber-sumber ekonomi, seperti tanah, industri dan kekayaan
8. Teori Power dan Discourse dalam perubahan sosial. Teori ini lahir dari inspirasi pandangan Foucault tentang discourse, power dan knowledge, terutama dalam hal bagaimana wacana dan pengetahuan mampu menjadi alat untuk mendominasi. Kekuasaan dan pengetahuan adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan, bersifat manunggal. Melalui proses pendisiplinan dan normalisasi proses maka penggunaan pengetahuan, kekuasaan telah diterapkan di berbagai aspek
SKETSA TEORI PEMBANGUNAN….
  • Dengan sketsa ringkas diharapkan memudahklan untuk melakukan analisis dan studi kritis terutama terhadap mainstream pembangunan yang diterapkan dan mendominasi di hampir seluruh negara dunia ketiga.
  • Pengetahuan akan development yang diproduksi oleh negara barat bukanlah pengetahuan yang netral. Ia sarat dengan idiologi barat dan terkandung nafsu untuk mengontrol. Mulanya dunia ketiga diberi label kekurangan, maka dengan seolah-olah dermawanyanya mereka membantu teknologi dan ilmu pengetahuan. Menurut Escobar justru hubungan itu menjadi imperialisme
SKETSA TEORI PEMBANGUNAN….
  • Discourse development merupakan suatu proses pendominasian secara intelektual, politik, ideologi, ekonomi dan budaya. Discourse development tidak memberi legitimasi dalam segala bentuk, cara dan pengetahuan non positifistik seperti pertanian tradisional dan tradisi gotong royong
  • Invasi development juga didukung oleh lembaga dana internasional seperti Bank Dunia dan IMF. Mereka mengikat negara berkembang pada kemauan negara kaya.
SKETSA TEORI PEMBANGUNAN….
Di masing-masing negara wacana pembangunan dikembangkan hingga pelosok pedesaan. Ideologi pembangunan ditegakkan oleh pemerintah misal dengan “The Floating mass Policy” :
  1. Kebijakan yang melarang semua organisasi massa pada tingkat desa
  2. Pemerintah menggeser tradisi demokrasi dalam sistem dan proses pemilihan lurah (dengan model seleksi yang ketat)
  3. Untuk pengawasan, pemerintah menempatkan militer untuk setiap desa (Babinsa)
  4. Dalam ekonomi menciptakan KUD
  5. Rembug desa diganti dengan peraturan pemerintahan desa
  6. Pendekatan pembangunan melalui pendidikan formal maupun non formal baik dalam skala besar maupun kecil
SKETSA TEORI PEMBANGUNAN….
  • Gagasan development telah diterima tanpa pertanyaan. Kalau ada perdebatan hanya sebatas perbedaan cara dan teknik pelaksanaannya, bukan pada level prinsip. Sehingga dapat disimpulkan bahwa developmentalism secara misterius telah diyakini oleh sebagian besar masyarakat, birokrat pemerintah, akademisi, seniman bahkan aktivis yang memimpikan perubahan seperti mahasiswa dan LSM
  • Developmentalisme pada dasarnya merupakan media, alat transfer pengalaman negara-negara industri maju unutk dijadikan model proses politik, ekonomi, sosial dan budaya bagi dunia ketiga.
  • sumber gambar ; http://www.deviantart.com
Continue Reading...

TEORI PEMBANGUNAN


TEORI PEMBANGUNAN
1. Manfaat apa yang bisa diperoleh ketika kita mempelajari Teori Pembangunan ? Jelaskan dengan memberikan contoh riil yang terjadi dalam realitas di negara Indonesia !! (skore 20 2. 2.Kontribusi apa yang bisa diberikan oleh para teoritikus pembangunan dalam perkembangan ilmu-ilmu sosial dan peradaban dunia ? Jelaskan dengan pendekatan minimal 3 teoritikus pembangunan ! Bagaimana relevansi teori tersebut dengan konteks yang terjadi saat ini di negara –negara sedang berkembang termasuk di Indonesia ? (skore 25 )
3.Bagaimana Anda menjelaskan fenomena-fenomena pembangunan yang terjadi di Indonesia saat ini ? Jelaskan dengan menggunakan teori-teori pembangunan yang relevan !! (skore 25)
4.Bagaimana dampak terjadinya krisis ekonomi dunia di Amerika bagi dinamika pembangunan di negara-negara sedang berkembang termasuk di Indonesia ? Solusi apa yang Anda bisa tawarkan dalam kasus seperti ini ? (skore 30)

Manfaat belajar teori pembangunan:
untuk dapat mengkaji faktor-faktor empirik pembangunan yang terjadi di masyarakat Indonesia dalam konteks perbandingan dengan negara berkembang lainnya dengan menggunakan kerangka berpikir sosiologis
Contoh : Penerapan teori modernisasi (khususnya : teorinya Rostow) dan ketergantungan di Indonesia (IMF, World bank dsb)
Tokoh-tokoh teoritikus Pembangunan
TEORI MODERNISASI : PEMBANGUNAN SEBAGAI MASALAH INTERNAL…. 1. 1.Teori Harrod – domar : tabungan dan Investasi
Evsey Domar dan Roy Harrod, kedua ahli ekonomi ini mencapai kesimpulan bahwa pertumbuhan ekonomi ditentukan oleh tingginya tabungan dan investasi. Kalau tabungan dan investasi rendah, pertumbuhan ekonomi masyarakat atau negara tersebut juga akan rendah.
Masalah pembangunan pada dasarnya merupakan masalah menambahkan investasi modal. Masalah keterbelakangan adalah masalah kekeurangan modal. Kalau ada modal dan modal tersebut diinvestasikan, hasilnya adalah pembangunan ekonomi

Tokoh-tokoh teoritikus Pembangunan
2. Marx Weber : Etika Protestan. Weber mempersoalkan masalah manusia yang dibentuk oleh nilai-nilai budaya di sekitarnya, khususnya nilai-nilai agama.
  • Weber membahas peran agama sebagai faktor yang menyebabkan munculnya kapitalisme di Eropa barat dan Amerika Serikat. Pembahasan ini ada dalam bukunya : The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism
  • Dalam bukunya Weber mencoba menjawab mengapa beberapa negara di Eropa dan Amerika Serikat mengalami kemajuan ekonomi yang pesat di bawah sistem kapitalisme. Setelah melakukan analisis, Weber menyimpulkan bahwa salah satu sebabnya adalah adanya Etika protestan
Tokoh-tokoh teoritikus Pembangunan
3. David Mc Clelland : Need for Achievment. Adanya N- Ach yang tinggi dalam sebuah masyarakat akan mengakibatkan pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat
  • N-Ach ini semacam virus yang bisa ditularkan. Jadi, N-Ach ini bukanlah sesuatu yang diawriskan sejak lahir.
  • David Mc Clelland menyelenggarakan bermacam latihan manajemen di pelbagai negara untuk menumbuhkan N- Ach ini.
  • Tempat yang paling baik untuk memupuk N –Ach adalah di dalam keluarga melalui orang tua. Pendidikan anak menjadi sangat penting, cerita anak-anak yang beredar harus diarahkan pada nilai N –Ach yang tinggi.

Tokoh-tokoh teoritikus Pembangunan
4. W.W. Rostow: Lima tahap Pembangunan. Dalam bukunya “The Stage of Economic Growth “, A Non Communist Manifesto, Rostow menguraikan teorinya tentang proses pembangunan dalam sebuah masyarakat.
Bagi Rostow, pembangunan merupakan proses yang bergerak dalam sebuah garis lurus, yakni dari masyarakat yang terbelakang ke masyarakat maju.

Tokoh-tokoh teoritikus Pembangunan
Rostow membagi proses pembangunan menajdi lima tahap yaitu :
  1. Masyarakat tradisional
  2. Pra kondisi untuk lepas landas
  3. Lepas landas
  4. Bergerak ke kedewasaan
  5. Jaman Konsumsi masal yang tinggi
Teori Rostow ini didasarkan pada dikotomi masyarakat tradisonal dan masyarakat modern. Titik terpenting dalam gerak kemajuan dari masyarakat yang satu ke lainnya adalah periode lepas landas

Tokoh-tokoh teoritikus Pembangunan
  • teori ketergantungan. Teori ini lahir dari dua induk, ahli ekonomi liberal : Raul Prebisch dan teori-teori MArxis tentang imperialisme dan kolonialisme serta pemikir MArxis yang merivisi pandangan Marxis tentang cara produksi Asia, yakni Paul Baran.
  • Kedua induk ini adlah para pemikir pendahulu dari teori ketergantungan
Tokoh-tokoh teoritikus Pembangunan
Raul Prebisch : Industri Subsitusi Impor Menurut Prebisch, negara-negara yang terbelakang harus melakukan industrialisasi, bila mau membangun dirinya. Industrilasiasi ini dimulai dengan industri subsitusi impor. Barang-barang industri yang tadinya diimpor harus diproduksi di dalam negeri.

Tokoh-tokoh teoritikus Pembangunan
Ini berarti industri-industri yang masih kecil harus dilindungi dari industri-industri besar yang sudah kuat di negara-negara maju. Oleh karena itu, pemerintah harus melindungi industri-industri kecil ini melalui kebijakan proteksi. Baru setelah industri kecil ini bisa dan sanggup bersaing dengan industri besar yang ada di negara pusat, proteksi ini ditarik kembali
Tokoh-tokoh teoritikus Pembangunan
Paul Baran : Sentuhan yang Mematikan dan Kretinisme…. Perkembangan kapitalisme di negara-negara pinggiran berbeda dengan perkembangan kapitalisme di negara-negara pusat. Di negara-negara pinggiran, sistem kapitalisme seperti terkena penyakit krenitisme. Orang yang dihinggapi penyakit ini tetap kerdil dan tidak bisa kerdil.


Tokoh-tokoh teoritikus Pembangunan
Menurut baran, kapitalisme di negara-negra pusat bisa berkembang karena adanya tiga prasyarat :
1) meningkatnya produksi diikuti dengan tercabutnya masyarakat petani dari pedesaan
2) Meningkatnya produksi komoditi dan terjadinya pembagian kerjanya sehingga sulit menjadi kaya dan sebagian lagi menjadi majikan yang bisa mengumpulkan harta
3) Mengumpulkannya harta di tangan para pedagang dan tuan tanah


Fenomena-fenomena Pembangunan
  • Kebijakan industrialisasi yang meninggalkan basic historis bangsa Indonesia sebagai negara agraris. Hal ini menimbulkan kegagalan industrialiasasi di Indonesia
  • Paradigma pembangunan yang ada belum sepenuhnya murni bottom up. Artinya kebijakan-kebijakan yang digulirkan oleh pemerintah belum sepenuhnya berpihak kepada rakyat. Salah satu implikasinya adalah masih adanya kesenjangan sosial, kemiskinan, pengangguran dsb.

Krisis Ekonomi Global
Indonesia sedang menghadapi proses menuju kesimbangan baru sebagai konsekuensi dari pergeseran kekuatan ekonomi dunia (China, India).
Krisis Ekonomi Global
Dampak krisis ekonomi tersebut bagi negara-negara sedang berkembang seperti Indonesia
  1. Terjadinya inflasi (gejolak bursa efek ) : melemahnya nilai tukar rupiah
  2. Defisit APBN
  3. Ketidakstabilan impor ekspor
  4. Jatuhnya aset keuangan dan semakin langkanya likuiditas di perbankan
  5. dsb

Krisis Ekonomi Global
Solusi yang bisa ditawarkan adalah : (sependapat dengan tawaran instruksi pemerintah)
  1. Menjaga kelangsungan ekonomi (sektor riil terutama UKM )
  2. Mencegah impor ilegal
  3. Menjaga keseimbangan fiskal
  4. Meningkatkan pengawasan barang beredar
  5. Menjaga stabilitas likuiditas dan mencegah terjadinya perang harga
  6. dsb
Continue Reading...

TEORI SOSIOLOGI KLASIK

TEORI SOSIOLOGI KLASIK
Achmad Zainal Arifin, S.Ag., S.Sos., MA


Prodi Sosiologi
Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora
UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta

Seputar SAP
Penjelasan SAP
Policy Perkuliahan: 75%
Aspek Penilaian
Ujian Akhir Semester : 25 %
Ujian Tengah Semester : 25 %
Tugas Mandiri : 20 %
Keaktifan Mahasiswa : 20 %
Komponen lain : 10 %
Kontrak Belajar
Refresh: Sosiologi?

Contoh Kasus:
Penerapan aturan baru dalam perkuliahan yang mensyaratkan mahasiswa untuk hadir minimal 75 persen, berbagai aturan kode etik serta setumpuk kewajiban lain yang harus dilakukan oleh mahasiswa untuk bisa lulus suatu perkuliahan telah memunculkan protes dikalangan mahasiswa sehingga proses perkuliahan menjadi terganggu.
Pentingnya sudut pandang atau perspektif dalam melihat fenomena sosial.
Refresh: Sosiologi?

Apakah Sosiologi?
Studi ilmiah tentang struktur sosial, interaksi sosial, dan faktor-faktor penentu perubahan dalam struktur sosial dan interaksi sosial.
Empat unsur penting dalam sosiologi:
Ilmu Pengetahuan: mengikuti prosedur ilmiah
Struktur Sosial: struktur mempengaruhi perilaku
Interaksi Sosial: adanya perbuatan dan respon
Perubahan Sosial: selalu hadir di masyarakat

Refresh: Sosiologi?
Luasnya cakupan sosiologi yang mengerucut pada keempat unsur utama diatas menyebabkan munculnya berbagai variasi perspektif dalam khazanah disiplin ilmu sosiologi
Cara mengkategorisasikan teori:
Agensi-struktur
Makro-mikro
Ritzer: Fakta Sosial, Definisi Sosial, dan Behaviorisme Sosial

Sejarah Kelahiran Sosiologi
Enlightment, ditandai oleh:
Science (observasi), teurtama setelah muncul teori Newton
Dominasi reason (akal) dibandingkan tradisi atau keyakinan
Semangat untuk pencarian hukum-hukum alam
Aplikasi science dan reason di segala bidang

Sejarah Kelahiran Sosiologi
Merebaknya kritik sosial
Lebih memperhatikan kesejahteraan dan kebebasan individu
Keinginan untuk menciptakan system yang lebih demokratis
Percaya pada perubahan kearah yang lebih baik (progress)

Sejarah Kelahiran Sosiologi
Reaksi Konservatif terhadap Enlightment:
Lebih menekankan pada tatanan dan stabilitas
Masyarakat dipandang sebagai sebuah organisme
Realisme sosial
Masyarakat lebih penting dari pada individu

Sejarah Kelahiran Sosiologi
Menekankan unsur non-rasional, ex: tradisi, ritual, seremoni, dll.
Menekankan sub-sistem masyarakat, ex: keluarga, kelompok agama, dll.
Percaya akan pentingnya hirarki dalam masyarakat

Sejarah Kelahiran Sosiologi
Sosiologi merupakan cabang ilmu pengetahuan yang terakhir kali memisahkan diri dari Filsafat
Auguste Comte sebelum menggunakan istilah Sosiologi, menyebut ilmu ini dengan istilah filsafat positif
Kajian tentang tokoh klasik sosiologi sendiri seringkali mengerucut pada tiga figur: Marx, Durkheim, dan Weber

Teori Sosiologi Klasik
Fungsionalisme Struktural
- Tokoh: Spencer, Durkheim, dan Pareto
- Level analisis: Makro
- Karakteristik: sistem-bagian2 (analogi organisme), kontribusi masing2 bagian, konsensus, dan equilibrium.

Konflik
- Tokoh: (Hegel), Marx, dan Weber

Teori Sosiologi Klasik
Level analisis: Makro
Karakteristik: kekuasaan sosial dan ketidakadilan, sumber2 ketegangan dan konflik di masyarakat, persaingan kepentingan, cenderung menuju posisi materialisme.

Interaksionisme Simbolik
- Tokoh: Simmel, Cooley, dan Mead
- Level analisis: Mikro
- Karakteristik: Pengembangan diri (self), sosialisasi, interaksi, penciptaan makna kecil.
Continue Reading...

MENGENAL DAN MENGAPLIKASIKAN PERSPEKTIF INTERAKSIONISME SIMBOLIK

MENGENAL DAN MENGAPLIKASIKAN
PERSPEKTIF INTERAKSIONISME SIMBOLIK
Oleh: Achmad Zainal Arifin, MA*

Applying sociological perspectives into an academic research is not as easy as we might think. Some researches, especially in religious field, that were claimed using sociological perspective, in fact, did not have any sense of sociological analysis at all, or at least, they usually limited their sociological analysis only on the function of religion in society by utilizing the perspective of functionalism. This article tries to intoduce an alternative perspective within sociology, namely symbolic interactionism and the way how this perspective can be applied broadly to explore religious phenomena. By utilizing this perspective, many religious phenomena, especially their symbolic aspects and the picture of everyday life situation would be better explained because the basic premises of this perspective in viewing the nature of society are more humane and dynamic. Besides, this perspective offers an interesting methodology to understand religious phenomena through the adoption and diffusion of fields methods, ethnography and qualitative sociology.

Key words: symbol, meaning, interaction, and society

Salah satu kesulitan yang seringkali dirasakan mahasiswa dalam menyelesaikan tugas akhir (skripsi) adalah minimnya kemampuan untuk mengaplikasikan teori-teori sosiologi yang akan digunakan sebagai pisau analisis dalam mendeskripsikan ataupun mengeksplorasi tema-tema penelitian yang telah dipilih. Kondisi ini tentu saja tidak muncul dengan sendirinya, melainkan terjadi akibat adanya kesalahan yang cukup mendasar pada proses pentransferan ilmu pengetahuan yang cenderung text-book dan kurang inovatif dalam pengambilan contoh-contoh kasus dalam menjelaskan kerangka teori sosial yang ada. Salah satu diantara sekian banyak teori-teori sosial yang kurang digarap secara maksimal dalam memahami fenomena keagamaan adalah pendekatan interaksionisme simbolik.
Menurut hemat penulis, setidaknya ada dua asumsi dasar yang kurang tepat di kalangan akademisi berkenaan dengan keengganan menggunakan perspektif ini dalam mengkaji fenomena-fenomena keagamaan yang ada. Pertama, anggapan bahwa perspektif interaksionisme simbolik cenderung bersifat positivistik. Anggapan seperti ini muncul bisa jadi disebabkan oleh keengganan kita untuk mengkaji lebih dalam perspektif ini dan juga faktor kelahiran perspektif ini sendiri yang dibidani oleh ilmuwan-ilmuwan sosial Amerika. Sebagaimana yang lazim dipahami, perkembangan ilmu-ilmu sosial di Amerika memang memunculkan kecenderungan yang bersifat positivistik dan pragmatis. Hal ini sangatlah berbeda bila kemudian kita kontraskan dengan perkembangan teori-teori sosiologi yang ada di daratan Eropa. Kedua, hasil yang bisa dicapai dari penggunaan perspektif interaksionisme simbolik tidaklah bersifat seradikal dan serevolusioner bila dibandingkan dengan penggunaan perspektif konflik, misalnya, dalam memahami fenomena keagamaan yang ada, sehingga ada kesan “nilai jual” dari pendekatan interaksionisme simbolik pun dipandang kurang “marketable” dan akhirnya cenderung untuk ditinggalkan. Hal ini sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari perseteruan klasik dalam kancah sosiologi berkenaan dengan dikotomi sosiologi “makro-mikro” dan juga permasalahan mengenai “agensi-struktur” yang masih mendapat tempat yang cukup kuat dikalangan sosiolog sendiri.
Terlepas dari dua asumsi diatas, sebenarnya perspektif interaksionisme simbolik memiliki beberapa keunggulan, dengan mendasarkan pada karakteristik-karakteristik utamanya, apabila kita gunakan sebagai pisau analisis untuk mengungkap berbagai fenomena keagamaan terutama yang bersifat mikro, yang kurang bisa diungkapkan dengan menggunakan perspektif-perspektif sosiologis lain yang cenderung bergerak pada dataran makro, sebagaimana perspektif fungsionalisme maupun konflik. Terlebih lagi, perkembangan perspektif interaksionisme simbolik, yang telah cukup lama mengalami kemunduran, mulai memunculkan beberapa upaya penggabungan antara persoalan makro dan mikro, telah memberikan kesempatan yang lebih luas kepada perspektif ini untuk memberikan kontribusi yang signifikan bagi perkembangan teori-teori sosiologi secara umum serta memberikan jawaban yang lebih komprehensif terhadap permasalahan-permasalahan yang ada di masyarakat.. Makalah ini akan mencoba untuk mengungkapkan bagaimana sebenarnya perspektif interaksionisme simbolik bisa diaplikasikan untuk mengungkapkan lebih jauh fenomena-fenomena keagamaan yang ada di masyarakat dengan mengkaji kembali sejarah perkembangan, ide-ide dasar, serta merekonstruksi bagaimana perspektif ini bisa diaplikasikan dalam memahami fenomena keagamaan yang ada.
A. Selintas Perspektif-perspektif dalam Sosiologi
Sebelum membahas perspektif interaksionisme simbolik secara lebih mendetail, perlu kiranya sedikit menyegarkan ingatan kita akan berbagai perspektif yang ada dalam disiplin ilmu sosiologi, paling tidak perspektif-perspektif yang paling sering digunakan para sosiolog dalam melihat dan mendefinisikan realitas sosial yang ada. Agar lebih jernih dalam memahami karakteristik dari berbagai perspektif yang ada dalam disiplin sosiologi, setidaknya kita perlu untuk mendefinisikan kembali pertanyaan mendasar tentang apa yang seharusnya dilakukan seorang sosiolog dalam membaca fenomena sosial yang membedakannya dari disiplin lain dalam ilmu-ilmu sosial. Sebuah ilustrasi klasik tentang kisah orang buta menggambarkan gajah yang telah diubah dibawah ini mungkin bisa sedikit membantu:
“Tersebutlah sebuah kisah tentang lima orang bijak yang kesemuanya buta sedang dibimbing kearah seekor gajah. Mereka diminta untuk menjelaskan apa yang mereka “lihat.” Pertama, seorang psikolog, meraba bagian atas kepala gajah dan mengatakan, “Hanya inilah bagian yang perlu diperhatikan. Segala bentuk perasaan dan pemikiran ada didalamnya. Untuk bisa memahami gajah dengan baik, hanya bagian inilah yang harus dipelajari.”
Kedua, seorang antropolog, dengan sabar membelai bagian belalai dan gading gajah. Dia berujar, “Bagian ini sangatlah primitif, saya merasa nyaman disini, konsentrasilah pada bagian ini.”
Ketiga, seorang ilmuan politik, ia merasakan telinga gajah yang besar dan berkata, “Inilah pusat kekuasaan, apapun yang masuk disini mengontrol seluruh bagian binatang ini. Pusatkan studi anda pada bagian ini.”
Keempat, seorang ekonom, meraba bagian mulut gajah dan berucap, “Inilah bagian terpenting, segala sesuatu yang masuk kedalam bagian ini didistribusikan keseluruh tubuh. Jadi, pelajarilah bagian ini.”
Terakhir, tentu saja seorang sosiolog, setelah meraba seluruh bagian tubuh, mengatakan, “kalian tidak akan bisa memahami binatang ini hanya dengan memperhatikan satu bagian saja. Itu hanyalah sebagian dari keseluruhan tubuh gajah. Kepala, belalai dan gading, telinga, dan mulut merupakan bagian yang penting, termasuk juga bagian tubuh yang belum kalian sebutkan. Kita harus menghilangkan kebutaan kita sehingga kita bisa melihat gambaran yang lebih komprehensif. Kita harus melihat bagaimana semua bagian bekerjasama membentuk sebuah binatang yang bernama gajah.” Setelah berhenti sejenak, sang sosiolog melanjutkan, “Kita juga perlu untuk memahami bagaimana gajah ini berinteraksi dengan sesamanya. Bagaimana kehidupan mereka dalam kelompok mempengaruhi perilaku mereka”?
Saya berharap bahwa saya dapat menyimpulkan kisah diatas dengan menyatakan bahwa sang psikolog, antropolog, ilmuwan politik, dan ekonom, setelah mendengarkan apa yang dikatakan sang sosiolog, akan segera menyingkirkan kebutaan mereka dan bekerjasama untuk mengamati gajah secara lebih komprehensif. Namun karena sikap keras kepala, masing-masing tetap bersikeras dengan bagian masing-masing. Bahkan sayup-sayup kita masih bisa mendengar gumaman mereka, “Bagian kepala adalah milik saya, menjauhlah darinya.” “Jangan sentuh gadingnya.” “Jauhkan tanganmu dari telinganya.” “Menjauhlah dari mulutnya, karena itu adalah wilayahku.”

SECARA SEPINTAS, KISAH DIATAS MENUNJUKKAN BEGITU LUASNYA OBYEK KAJIAN YANG HARUS DIAMATI OLEH SEORANG SOSIOLOG SEHINGGA BISA DIKATAKAN SOSIOLOGI MEMILIKI CAKUPAN YANG PALING LUAS BILA DIBANDINGKAN DENGAN CABANG-CABANG ILMU SOSIAL LAINNYA. KELUASAN OBYEK KAJIAN INI JUGA BISA KITA LIHAT DALAM BERBAGAI LITERATUR PENGANTAR SOSIOLOGI, DIMANA SOSIOLOGI SENDIRI SERINGKALI DIDEFINISIKAN SEBAGAI SEBUAH STUDI ILMIAH TENTANG STRUKTUR SOSIAL, INTERAKSI SOSIAL, DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN PERUBAHAN DALAM STRUKTUR DAN INTERAKSI. KARENANYA, SEORANG SOSIOLOG SETIDAKNYA HARUS MEMILIKI PERHATIAN YANG KUAT TERHADAP EMPAT UNSUR YANG MEMBENTUK SEBUAH PERSPEKTIF ATAU SUDUT PANDANG SOSIOLOGIS. UNSUR PERTAMA DALAM PANDANGAN SOSIOLOGIS ADALAH ILMU. KARENA SOSIOLOGI ADALAH SEBUAH ILMU, PARA SOSIOLOG MENGIKUTI SERANGKAIAN KETENTUAN PROSEDUR PENELITIAN DALAM MENGINVESTIGASI FENOMENA SOSIAL. STRUKTUR SOSIAL MERUPAKAN UNSUR KEDUA DARI PANDANGAN SOSIOLOGIS. MASYARAKAT ADALAH TERSTRUKTUR, DAN STRUKTUR SOSIAL INI TERDIRI DARI KOMPONEN-KOMPONEN DARI LINGKUNGAN SOSIAL KITA YANG SECARA RELATIF BERSIFAT PERMANEN SEPERTI KELUARGA, AGAMA, DAN NEGARA. STRUKTUR MERUPAKAN TATANAN DALAM KEHIDUPAN SOSIAL YANG KEKAL DAN MENENTUKAN SERTA DAPAT DIPREDIKSI. UNSUR YANG KETIGA ADALAH INTERAKSI SOSIAL. PARA INDIVIDU SECARA UMUM MEMILIKI KETERLIBATAN DENGAN KEBANYAKAN INDIVIDU LAINNYA YANG DENGANNYA MEREKA BERINTERAKSI SECARA TERUS-MENERUS. PERUBAHAN SOSIAL MERUPAKAN UNSUR TERAKHIR DARI PANDANGAN SOSIOLOGIS. MESKIPUN KEHIDUPAN SOSIAL TERSTRUKTUR, IA SENANTIASA MASIH AKAN BERUBAH-UBAH DAN PARA SOSIOLOG MENGAKUI BAHWA BAIK KONTINUITAS MAUPUN PERUBAHAN MERUPAKAN CIRI-CIRI DARI EKSISTENSI SOSIAL MANUSIA.
Perbedaan dalam memberikan perhatian terhadap eksistensi keempat unsur inilah yang memunculkan berbagai corak perspektif dalam disiplin sosiologi. Perspektif sosiologis yang lebih menekankan pada unsur struktur, misalnya, jelas akan memiliki pandangan yang berbeda dengan perspektif yang mengedepankan unsur interaksi sosial. Secara kasat mata mungkin kita bisa membayangkan bahwa perspektif yang lebih mendasarkan asumsi atau premis dasarnya pada urgensi struktur akan memiliki kecenderungan untuk berbicara pada level makro. Sebaliknya, ketika unsur interaksi lebih mengemuka, maka perbincangan seputar masalah sosiologi mikro akan lebih mendominasi. Sejalan dengan perbedaan level makro-mikro dalam perspektif sosiologi, perdebatan masalah agensi-struktur juga memberikan warna tersendiri bagi perkembangan perspektif-perspektif dalam sosiologi. Persoalan dominasi individu ataukah sistem sosial yang paling berperan dalam melihat fenomena sosial ini, sedikit banyak juga bersumber dari perbedaan penekanan dalam melihat keempat unsur sosiologi diatas. Persoalan agensi-struktur ini juga telah menempatkan perspektif-perspektif dalam sosiologi dalam karakteristiknya masing-masing.
Secara historis, setidaknya ada tiga perspektif utama yang mendominasi perkembangan perspektif sosiologi, yaitu: perspektif fungsionalisme, konflik, dan interaksionisme simbolik. Sedangkan berbagai perspektif lain yang muncul sesudahnya bisa dikatakan merupakan pengembangan, penggabungan, maupun derivasi dari ketiga perspektif tersebut yang direpresentasikan oleh figur-figur klasik sosiologi, seperti Durkheim, Marx dan Weber, serta Simmel. Penyempurnaan-penyempurnaan yang dilakukan oleh para sosiolog terhadap ide-ide dasar keempat figur diatas, entah itu beruwujud respon terhadap berbagai kritik yang muncul maupun upaya-upaya mensintesiskan perspektif-perspektif yang ada dalam rangka menjelasakan fenomena sosial yang lebih kompleks, dan bisa dikatakan juga tidak lepas dari pergerakan wacana seputar masalah mikro-makro serta agensi-struktur yang hingga saat ini masih bisa dikatakan masih belum menemukan titik akhirnya.
Perspektif fungsional atau yang dikenal juga dengan nama fungsionalisme struktural serta analisis fungsional, misalnya, berawal dari ide-ide dasar Comte, Spencer, maupun Durkheim, yang menganalogikan masyarakat sebagai organisme sosial dengan menitikberatkan fokus analisisnya pada hubungan-hubungan antar anggota atau bagian dari masyarakat, termasuk didalamnya menganalisis bagaimana bagian-bagian tersebut memberikan kontribusi, baik positif (fungsional) maupun negatif (disfungsional), bagi kelangsungan masyarakat, mendapatkan kritik yang luar biasa terutama berkenaan dengan ketidakmampuan perspektif ini ketika harus berhadapan dengan perubahan sosial sehingga cenderung diklaim sebagai perspektif sosiologi yang pro-status quo. Para penganut perspektif ini pun kemudian melakukan berbagai revisi yang cukup mendasar dalam meng-counter kritik-kritik yang ada. Setidaknya kita bisa mencatat nama Talcott Parsons dan Robert K. Merton sebagai tokoh utama sekaligus dewa penyelamat dari perspektif ini sehingga tetap eksis dan bahkan mendominasi perkembangan teori-teori sosiologi, setidaknya hingga dekade 60-an. Satu nama lagi yang layak dikemukakan disini berkaitan dengan perspektif fungsional yaitu Jeffrey Alexander yang pada dekade 80-an mendeklarasikan neofungsionalisme. Sejalan dengan Jeffrey Alexander, eksponen fungsionalis yang juga melakukan kritik mendasar tentang skema fungsional yang digagas oleh Parsons adalah Niklas Luhmann, yang lebih dikenal dengan fungsionalisme sistem-nya.
BEGITU JUGA DALAM PERKEMBANGAN PERSPEKTIF KONFLIK. PERMASALAHAN MAKRO-MIKRO DAN AGENSI-STRUKTUR JUGA MEMBERIKAN PENGARUH YANG CUKUP KUAT BAGI KEMUNCULAN BERBAGAI VARIAN TEORI YANG ADA DALAM PERSPEKTIF KONFLIK. BISA DIKATAKAN BAHWA KONSEP-KONSEP DASAR DALAM PERSPEKTIF INI BERSUMBER DARI KARYA-KARYA MARX DAN WEBER. MESKIPUN PERSPEKTIF INI, SEBAGAIMANA JUGA PERSPEKTIF FUNGSIONAL,BERGERAK DALAM LEVEL MAKRO SOSIOLOGI, NAMUN KEDUA PERSPEKTIF INI BISA DIKATAKAN MEMILIKI PREMIS-PREMIS DASAR YANG BERTOLAK BELAKANG. HAL INI BISA KITA LIHAT PADA KONSEP TENTANG MASYARAKAT SEBAGAIMANA YANG DIUNGKAPKAN OLEH DAHRENDORF SEBELUM DIA MENGUTARAKAN KONSEPNYA BAHWA MASYARAKAT MEMILIKI DUA WAJAH, YAITU KONFLIK DAN KONSENSUS. LEBIH LANJUT IA MENJELASKAN BAHWA TERDAPAT BEBERAPA PERBEDAAN MENDASAR ANTARA KEDUA PERSPEKTIF INI DIANTARANYA, PERTAMA, KALANGAN FUNGSIONALIS MEMANDANG MASYARAKAT SEBAGAI SESUATU YANG BERSIFAT STATIS, ATAU SETIDAKNYA PERGERAKAN YANG TERJADI SELALU MENUJU PADA EQUILIBRIUM ATAU MENUJU KE ARAH HARMONISASI, SEMENTARA PERSPEKTIF KONFLIK MELIHAT BAHWA SETIAP MASYARAKAT SELALU BERPROSES KE ARAH PERUBAHAN. KEDUA, KALANGAN FUNGSIONALIS SELALU MENEKANKAN PADA TATANAN SOSIAL, SEMENTARA PENGANUT PRESPEKTIF KONFLIK JUSTRU MELIHAT PERSELISIHAN DAN KONFLIK SEBAGAI HAL TERPENTING DALAM SISTEM SOSIAL. KETIGA, KALANGAN FUNGSIONALIS MEYAKINI BAHWA SETIAP ELEMEN MASYARAKAT MEMBERIKAN KONTRIBUSINYA PADA STABILITAS, SEMENTARA PARA PENGANUT PERSPEKTIF KONFLIK MELIHAT BAHWA KEBANYAKAN ELEMEN MASYARAKAT BERPERAN AKTIF DALAM DISINTEGRASI DAN PERUBAHAN. KEEMPAT, FUNGSIONALIS MELIHAT MASYARAKAT SEBAGAI SESUATU YANG SECARA INFORMAL DIPERSATUKAN OLEH NORMA, NILAI, DAN MORAL BERSAMA, SEMENTARA KALANGAN PERSPEKTIF KONFLIK MEMANDANG BAHWA TATANAN SOSIAL MERUPAKAN BUAH DARI PAKSAAN YANG DILAKUKAN OLEH PARA ELIT TERHADAP ANGGOTA MASYARAKAT LAINNYA. TERAKHIR, KALANGAN FUNGSIONALIS LEBIH MENEKANKAN PADA KOHESI ATAU DAYA PEMERSATU YANG DICIPTAKAN MELALUI NILAI-NILAI BERSAMA, SEMENTARA KALANGAN PERSPEKTIF KONFLIK LEBIH MENEKANKAN PADA PERAN KEKUASAAN DALAM MENJAGA TATANAN SOSIAL.
DALAM PERKEMBANGANNYA, PERSPEKTIF KONFLIK SENDIRI TELAH MEMUNCULKAN BERBAGAI MACAM ALIRAN YANG IDE-IDE DASARNYA BERSUMBER DARI KEDUA TOKOH SENTRAL PERSPEKTIF INI, YAITU MARX DAN WEBER, BAHKAN BISA JADI MERUPAKAN PENGGABUNGAN DARI IDE-IDE KEDUANYA. BAHKAN BISA DIKATAKAN, VARIAN TEORI YANG MUNCUL DARI PERSPEKTIF INI JAUH LEBIH KOMPLEKS DIBANDINGKAN PERSPEKTIF FUNGSIONAL. PARA PEWARIS IDE-IDE KARL MARX YANG TERHIMPUN DALAM NEO-MARXISME SENDIRI, MENURUT RITZER, SETIDAKNYA TELAH MENGHASILKAN BEBERAPA TEORI, SEPERTI (1) ECONOMIC DETERMINISM, YANG MEMUNCAK PADA DIRI KARL KAUTSKY; (2) HEGELIAN MARXISM, YANG DIPELOPORI DUA TOKOH UTAMANYA LUKACS DAN GRAMSCI; (3) CRITICAL THEORY DARI MAZHAB FRANKFURT YANG MENCAPAI KEJAYAANNYA DI TANGAN HABERMAS; (4) HISTORICAL MARXISM, YANG TERCERMIN DARI KARYA MONUMENTAL WALLERSTEIN TENTANG SISTEM DUNIA MODERN; (5) POST-MARXIS THEORY, YANG MENGERUCUT PADA IDE TENTANG MARXISME ANALITIK DAN TEORI POSMO-MARXISME. SEMENTARA ITU, DARI IDE-IDE MAX WEBER, JUGA MELAHIRKAN BEBERAPA TEORI LAIN YANG CUKUP BERPENGARUH PADA PERKEMBANGAN PERSPEKTIF KONFLIK SECARA UMUM. TEORETISI NEO-WEBERIAN YANG CUKUP BERPENGARUH DISINI ADALAH RENDALL COLLINS, YANG MENCOBA UNTUK MEMBERIKAN KELELUASAAN IDE-IDE WEBER UNTUK BERGELUT PADA LEVEL MIKRO DENGAN MENAMBAHKAN SENTUHAN IDE DURKHEIM TENTANG RITUAL, DRAMATURGI-NYA GOFFMAN, SERTA PENDEKATAN ETHNOMETODOLOGY. DISAMPING ITU, TERDAPAT JUGA NAMA RALF DAHRENDORF YANG TELAH KITA SINGGUNG SEBELUMNYA, SERTA LEWIS COSER, YANG MENCOBA “MENDAMAIKAN” PERSPEKTIF KONFLIK DARI WEBER DENGAN PERSPEKTIF FUNGSIONAL.
DISAMPING PERSPEKTIF FUNGSIONAL DAN KONFLIK DIATAS, ADA BEBERAPA PERSPEKTIF LAIN YANG AGAKNYA PERLU UNTUK KITA KETAHUI SEBELUM KITA LEBIH DETAIL BERBICARA TENTANG PERSPEKTIF INTERAKSIONISME SIMBOLIK, YAITU TEORI PERTUKARAN SOSIAL, FENOMENOLOGI SOSIAL, DAN STRUKTURALISME. TEORI PERTUKARAN SOSIAL, DALAM KONTEKS PERKEMBANGAN TEORI SOSIOLOGI, SERINGKALI DINISBAHKAN PADA DUA TOKOH UTAMANYA, YAITU GEORGE C. HOMANS DAN PETER M. BLAU. SECARA MENDASAR TEORI PERTUKARAN SOSIAL INI BERANGKAT DARI PREMIS BAHWA SETIAP TINDAKAN MANUSIA DIDASARKAN PADA GANJARAN YANG AKAN DIDAPATKANNYA. PREMIS INI DIJADIKAN DASAR UNTUK MELIHAT TINDAKAN SOSIAL YANG ADA DI MASYARAKAT. SETIDAKNYA, YANG MEMBEDAKAN ANTARA TEORI HOMANS DAN BLAU ADALAH MASALAH MAKRO-MIKRO. HOMANS LEBIH BERGERAK PADA LEVEL MIKRO (INDIVIDUAL), SEMENTARA BLAU MEMPERLUAS GAGASANNYA UNTUK MEMAHAMI STRUKTUR TINDAKAN SOSIAL YANG LEBIH BERSIFAT MAKRO. SEMENTARA ITU, PERSPEKTIF FENOMENOLOGI SOSIAL DALAM TEORI-TEORI SOSIOLOGI MODERN MULAI MENDAPAT TEMPAT MELALUI KONSEP “DUNIA INTERSUBYEKTIF” YANG DIGAGAS OLEH ALFRED SCHUTZ, YANG KEMUDIAN DIKEMBANGKAN LEBIH JAUH OLEH GARFINKEL MELALUI STUDI ETNOMETODOLOGINYA.
Sementara itu, perspektif strukturalisme, mula-mula diperkenalkan oleh seorang ahli linguistik berkebangsaan Swiss, Ferdinand de Saussure, yang ide-idenya kemudian diperluas oleh seorang antropolog Claude Levi-Strauss. Ide dasar yang diusung oleh Strauss adalah penganalogian sistem sosial dengan sistem bahasa, dimana istilah-istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan sistem sosial maupun bahasa diyakini tidak memiliki makna kecuali ketika istilah-istilah tersebut dipakai secara integral untuk melihat sistem secara keseluruhan. Ide-ide kalangan strukturalis ini kemudian memperoleh kritik yang tajam dari kalangan post-strukturalis yang dipelopori oleh Jacques Derrida, melalui teori dekonstruksinya, yang kemudian dikembangkan lebih jauh oleh Michel Foucault, yang tercermin dari dua konsep utamanya tentang “archeology of knowledge” dan “genealogy of power” dalam melihat realitas sosial. Selain itu, dalam khazanah teori-teori sosiologi modern, satu lagi tokoh yang layak dikemukakan berkenaan dengan perspektif strukturalis ini, Pierre Bourdieu, yang menggagas strukturalisme kultural, melalui ide dasarnya tentang tipe-tipe modal (capital) yang menempatkan modal kultural sebagai sesuatu yang paling dominan.
Ketiga perspektif alternatif beserta berbagai variannya setidaknya telah memberikan warna lain dari perspektif-perspektif yang ditawarkan sosiologi, bahkan beberapa diantaranya, seperti ide-ide teori pertukaran sosial, post-strukturalis maupun strukturalisme kultural sempat mendapat tempat yang cukup luas dikalangan sosiolog, khususnya dalam merespon perubahan sosial yang begitu cepat dimasyarakat. Tentu saja, sebagaimana yang telah diindikasikan sebelumnya, pemanfaatan perspektif-perspektif yang ada dalam sosiologi harus disesuaikan dengan topik atau permasalahan yang sedang kita hadapi, karena bisa dikatakan tidak ada perspektif atau sudut pandang yang mampu untuk memotret realitas sosial secara menyeluruh. Oleh karena itu, tugas utama seorang sosiolog bukanlah menentukan mana perspektif yang “benar” atau “salah”, akan tetapi lebih kepada persoalan manakah perspektif yang paling bermanfaat untuk menjelaskan permasalahan yang ada.
B. Perspektif Interaksionisme Simbolik
Setelah kita secara selintas memahami berbagai perspektif-perspektif yang ada dalam sosiologi, paling tidak kita sudah bisa melihat bagaimana posisi dari masing-masing perspektif. Perspektif interaksionisme simbolik, yang akan kita bicarakan secara lebih detail disini, setidaknya juga kita yakini memiliki karakteristik tersendiri dalam melihat fenomena sosial yang ada. Beberapa pemikir utama yang seringkali diasosiasikan dengan perspektif ini, yaitu: George Herbert Mead, Charles Horton Cooley, William Isaac Thomas, Robert Park, Herbert Blumer, dan Erving Goffman. Untuk memahami karakteristik tersebut, bahasan tentang perspektif ini setidaknya akan mengupas tentang akar sejarah dan ide-ide dasar dari perspektif interaksionisme simbolik.
1. Akar Sejarah Perspektif Interaksionisme Simbolik
Meskipun istilah “interaksionisme simbolik” dicetuskan oleh Herbert Blumer pada tahun 1937, namun ide-ide dasar perspektif ini nampaknya mengerucut pada ide-ide Herbert Mead, yang tidak lain adalah guru dari Herbert Blumer ketika ia belajar di University of Chicago. Karenanya, tidaklah mengherankan apabila sebagian kalangan sosiolog kemudian mencoba untuk melacak akar dari perspektif ini melalui pemikiran-pemikiran yang telah mempengaruhi karya-karya Mead. Menurut Joel M. Charon, setidaknya ada tiga model pemikiran yang sangat mempengaruhi Mead, yaitu: filsafat pragmatisme, darwinisme, dan behaviorisme. Dari filsafat pragmatisme, setidaknya ada empat ide dasar yang nantinya juga menjadi pondasi dasar perspektif interaksionisme simbolik, yaitu: (1) segala sesuatu yang bersifat riil bagi kita selalu tergantung pada intervensi aktif kita sendiri, maksudnya, manusialah yang menginterpretasikan segala sesuatu; (2) pengetahuan bagi manusia selalu dikaitkan dengan situasi dan dinilai berdasarkan kegunaannya; (3) obyek yang kita alami dalam situasi tertentu selalu didefinisikan menurut kegunaannya bagi kita; dan (4) memahami manusia harus disimpulkan dari apa yang ia lakukan. Dari keempat ide tersebut setidaknya kita bisa menilai seberapa penting filsafat pragmatisme bagi perspektif interaksionisme simbolik yang memang menempatkan interpretasi sebagai poin penting dalam memahami perilaku manusia.
SEMENTARA ITU, DARI SEORANG CHARLES DARWIN YANG MERUPAKAN PENGANUT NATURALISME, MEAD MEWARISI KEYAKINAN BAHWA MANUSIA HARUS DIPAHAMI DARI SISI NATURALISTIKNYA, BUKAN DARI SISI SUPERNATURAL. SELAIN ITU, TEORI EVOLUSI DARWIN JUGA BERPENGARUH TERHADAP PANDANGAN MEAD TENTANG MANUSIA. MANUSIA, DALAM PANDANGAN MEAD, MERUPAKAN MAKHLUK YANG MEMILIKI KEUNIKAN YANG DIDASARKAN PADA KEMAMPUANNYA BERPIKIR DAN BERKOMUNIKASI SECARA SIMBOLIK DENGAN DIRI SENDIRI MAUPUN ORANG LAIN. OLEH KARENA ITU, SEGALA SESUATU BERKENAAN DENGAN MANUSIA DIYAKINI SEBAGAI SUATU PROSES, BUKAN MERUPAKAN SESUATU YANG STABIL DAN TETAP. PENGARUH DARWINISME TERHADAP POLA PEMIKIRAN MEAD MEMANG TERASA KENTAL, BAHKAN BISA DIKATAKAN KONSEP-KONSEP DASAR DARI MEAD, YANG NANTINYA JUGA BERPERAN SENTRAL DALAM PENGEMBNAGAN PERSPEKTIF INTERAKSIONISME SIMBOLIK, SEPERTI KONSEP TENTANG KEBENARAN, DIRI, MAUPUN SIMBOL, TIDAK BISA LEPAS DARI PENGARUH DARWINISME YANG CENDERUNG NATURALIS DAN EVOLUSIONER.
BEHAVIORISME SENDIRI, TERUTAMA IDE-IDE DARI JOHN B. WATSON, MEMILIKI PENGARUH YANG CUKUP KUAT DALAM PEMIKIRAN MEAD, TERUTAMA IDE DASAR DARI KALANGAN BEHAVIORIS YANG MENYATAKAN BAHWA CARA YANG PALING SAH SECARA ILMIAH UNTUK MEMAHAMI SEMUA BINATANG, TERMASUK MANUSIA, ADALAH MELALUI TINGKAH LAKU MEREKA. NAMUN DALAM MENGINTERPRETASIKAN IDE DASAR INI MEAD TIDAK SERTA MERTA MENERIMANYA, SEBAGAIMANA KALANGAN BEHAVIORISME PSIKOLOGIS, AKAN TETAPI IA MENAMBAHKAN KONDISI-KONDISI SOSIAL YANG HARUS DIPERHATIKAN KETIKA MENGAMATI SUATU PERILAKU MANUSIA. MEAD, SEBAGAIMANA DIKUTIP CHARON, BEPANDANGAN BAHWA KETIKA KITA MENGAMATI SUATU TINDAKAN YANG NYATA, KITA HARUS SELALU MEMPERHATIKAN APA YANG SEDANG TERJADI TERKAIT MASALAH DEFINISI, INTERPRETASI, DAN MAKNA.
SEBENARNYA, DISAMPING PENGARUH DARI KETIGA MODEL PEMIKIRAN YANG TERWUJUD DALAM IDE-IDE MEAD DIATAS, AKAR SEJARAH DARI PERSPEKTIF INTERAKSIONISME SIMBOLIK INI TIDAK BISA KITA LEPASKAN DARI DUA FIGUR UTAMA TEORI SOSIOLOGI KLASIK, YAITU MAX WEBER, DAN GEORG SIMMEL. MAX WEBER BISA DIKATAKAN MEMILIKI PENGARUH YANG CUKUP KUAT TERHADAP PERSPEKTIF INI MELALUI METODE VERSTEHEN-NYA YANG MERUPAKAN AWAL TERBENTUKNYA SOSIOLOGI INTERPRETIF. SELAIN ITU, TEORI WEBER TENTANG TINDAKAN, YANG MENEKANKAN INTERPRETASI INDIVIDU TENTANG SITUASI DAN PENTINGNYA MAKNA SUBYEKTIF, SANGAT BERPENGARUH TERHADAP AWAL MULA PERKEMBANGAN PERSPEKTIF INTERAKSIONISME SIMBOLIK. SEMENTARA ITU, KONTRIBUSI GEORG SIMMEL BAGI PERSPEKTIF INI NAMPAK DARI IDE DASARNYA TENTANG MASYARAKAT YANG IA PANDANG SEBAGAI SUATU SISTEM INTERAKSI, YANG MENEMPATKAN INDIVIDU SEBAGAI BAGIAN TERPENTING DARI SISTEM SOSIAL, DIMANA PADA LEVEL INDIVIDU INILAH PROSES INTERAKSI TERJADI DAN KEMUDIAN MENGGEMA HINGGA MEMBENTUK MASYARAKAT. ISTILAH YANG DIGUNAKAN SIMMEL UNTUK MELUKISKAN PROSES INI ADALAH “GEOMETRY OF SOCIAL SPACE.” SETELAH KITA MEMAHAMI AKAR SEJARAH PERSPEKTIF INTERAKSIONISME SIMBOLIK, TENTU SAJA KITA SUDAH BISA SEDIKIT MERABA KARAKTERISTIK DARI PERSPEKTIF INI DIBANDINGKAN DENGAN PERSPEKTIF-PERSPEKTIF LAIN DALAM SOSIOLOGI. DALAM PEMBAHASAN SELANJUTNYA, KITA AKAN LEBIH FOKUS LAGI DALAM MELIHAT IDE-IDE DASAR YANG DIKEMBANGKAN OLEH PERSPEKTIF INI UNTUK MELIHAT REALITAS SOSIAL YANG ADA DI MASYARAKAT.
2. IDE-IDE DASAR PERSPEKTIF INTERAKSIONISME SIMBOLIK
KALAU KITA COBA UNTUK MERUNUT IDE-IDE AWAL DARI PARA TOKOH UTAMA PERSPEKTIF INI, SEPERTI MEAD, COOLEY, THOMAS, DAN PARK, YANG KEMUDIAN DISINTESISKAN OLEH BLUMER SEBAGAI PENCETUS ISTILAH INTERAKSIONISME SIMBOLIK HINGGA MUNCULNYA GENERASI PENERUS SEPERTI MANFORD KUHN MELALUI MAZHAB IOWA-NYA SERTA ERVING GOFFMAN LEWAT DRAMATURGINYA, SETIDAKNYA ADA BEBERAPA ISTILAH KUNCI YANG PERLU UNTUK KITA PAHAMI TERLEBIH DAHULU SEBELUM KITA BISA MENGGAMBARKAN LEBIH JAUH BAGAIMANA PERSPEKTIF INI BEKERJA. BEBERAPA ISTILAH KUNCI TERSEBUT BERKENAAN DENGAN DEFINISI TENTANG MAKNA SIMBOL, DIRI (SELF), INTERAKSI SOSIAL, DAN MASYARAKAT.
Dari nama perspektif ini saja kita bisa memahami sejauh mana urgensi simbol mempengaruhi seluruh konsep dasar dan cara kerja perspektif ini. Oleh karena itu, definisi tentang simbol perlu untuk kita kaji lebih jauh. Definisi tentang simbol yang dianut oleh perspektif ini tercermin dari ide-ide Mead yang kemudian dielaborasi lebih jauh oleh tokoh-tokoh sesudahnya, termasuk Blumer sendiri. Simbol dalam perspektif ini didefinisikan sebagai objek sosial yang digunakan untuk merepresentasikan apapun yang disepakati untuk direpresentasikan. Bisa dikatakan, sebagian besar tindakan manusia merupakan simbol, karena ditujukan untuk merepresentasikan sesuatu melebihi kesan pertama yang kita terima, seperti orang akan tersenyum ketika menyukai lawan bicaranya, atau seseorang menyalakan lampu sinyal mobil untuk menunjukkan bahwa ia akan berbelok. Begitu juga dengan obyek lainnya. Bunga, misalnya, ia bisa menjadi simbol tetapi bisa juga bukan merupakan simbol. Ketika bunga digunakan sebagai obat-obatan atau untuk campuran makanan, maka ia bukanlah simbol. Tetepi apabila bunga digunakan untuk menyatakan rasa cinta pada orang lain maka ia menjadi simbol. Definisi tentang simbol seperti ini membawa kita pada tiga premis dasar dalam perspektif interaksionisme simbolik,sebagaimana yang diungkapkan oleh Blumer, yaitu: (1) manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna yang dimiliki oleh sesuatu tersebut bagi mereka; (2) makna dari sesuatu tersebut muncul dari interaksi sosial seseorang dengan yang lainnya; dan (3) makna tersebut disempurnakan melalui sebuah proses interpretasi pada saat seseorang berhubungan dengan sesuatu tersebut. Dari ketiga premis yang dilontarkan oleh Blumer ini, bisa kita simpulkan bahwa kedudukan makna simbol sangatlah urgen, sebab ia menjadi dasar bagi manusia untuk melakukan suatu tindakan. Disamping itu, hal ini juga mengindikasikan begitu pentingnya ketiga istilah kunci lainnya dalam memahami perspektif interaksionisme simbolik.
ISTILAH KUNCI KEDUA YAITU DEFINISI TENTANG DIRI (SELF). DALAM PERSPEKTIF INTERAKSIONISME SIMBOLIK, SECARA SEDERHANA “SELF”DIDEFINISIKAN SEBAGAI SUATU OBJEK SOSIAL DIMANA AKTOR BERTINDAK TERHADAPNYA. MAKSUDNYA, KADANGKALA AKTOR ATAU INDIVIDU BERTINDAK TERHADAP LINGKUNGAN YANG BERADA DI LUAR DIRINYA, NAMUN TERKADANG IA JUGA MELAKUKAN TINDAKAN YANG DITUJUKAN UNTUK DIRINYA SENDIRI. DENGAN MENJADIKAN “DIRI” SEBAGAI OBYEK SOSIAL, SESEORANG MULAI MELIHAT DIRINYA SENDIRI SEBAGAI OBYEK YANG TERPISAH DARI OBYEK SOSIAL LAIN YANG ADA DI SEKELILINGNYA KARENA DALAM BERINTERAKSI DENGAN YANG LAIN, IA DITUNJUK DAN DIDEFINISIKAN SECARA BERBEDA OLEH ORANG LAIN, SEMISAL: “KAMU ADALAH MAHASISWA”, ATAU “KAMU ADALAH MAHASISWA YANG PINTAR.” HAL INI TENTU SAJA MENGINDIKASIKAN BAHWA “DIRI” AKAN SELALU DIDEFINISIKAN DAN DIDEFINISIKAN KEMBALI DALAM INTERAKSI SOSIAL SESUAI DENGAN SITUASI YANG DIHADAPI. DENGAN DEMIKIAN, PERSOALAN TENTANG PENILAIAN DAN IDENTITAS DIRI JUGA SANGAT TERKAIT DENGAN SITUASI BAGAIMANA SESEORANG HARUS MENDEFINISIKAN DAN MENGKATEGORIKAN DIRINYA. SALAH SATU CONTOH KONGKRET PERUBAHAN YANG RADIKAL TENTANG BAGAIMANA SESEORANG MENILAI DIRINYA SENDIRI TERLIHAT JELAS MELALUI STUDI GOFFMAN TENTANG INSTITUSI PENJARA, TEMPAT DIMANA PARA TAHANAN “DIPAKSA” UNTUK MEMANIPULASI DUNIA PERSONALNYA MELALUI SERANGKAIAN ISOLASI, DEGREDASI, MAUPUN PENGHINAAN DIRI SEHINGGA IA HARUS MENDEFINISIKAN KEMBALI KONSEP TENTANG DIRINYA.
ISTILAH KETIGA YANG PERLU KITA PERHATIKAN DISINI ADALAH KONSEP TENTANG INTERAKSI SOSIAL. DALAM PERSPEKTIF INTERAKSIONISME SIMBOLIK, INTERAKSI SOSIAL DIDEFINISIKAN BERKENAAN DENGAN TIGA HAL: TINDAKAN SOSIAL BERSAMA, BERSIFAT SIMBOLIK, DAN MELIBATKAN PENGAMBILAN PERAN. CONTOH YANG SEDERHANA UNTUK MENGGAMBARKAN INTERAKSI SOSIAL ADALAH PERMAINAN CATUR. KETIKA SESEORANG MENGGERAKKAN SEBUAH BIJI CATUR, SERINGKALI IA SUDAH MEMILIKI RENCANA UNTUK MENGGERAKKAN BIJI CATUR BERIKUTNYA. NAMUN, KETIKA PIHAK LAWAN MERESPON DENGAN MENGGERAKKAN BIJI TERTENTU, MAKA IA AKAN BERUPAYA UNTUK MENGINTERPRETASIKAN LANGKAH LAWANNYA, MENCOBA UNTUK MEMAHAMI MAKNA DAN MAKSUD DARI LANGKAH PIHAK LAWAN DAN KEMUDIAN BERUPAYA UNTUK BISA MENENTUKAN LANGKAH TERBAIK YANG HARUS DIAMBIL, MESKI LANGKAH TERSEBUT BERBEDA DENGAN RENCANA SEBELUMNYA. DARI CONTOH SEDERHANA INI NAMPAK JELAS BAHWA DALAM INTERAKSI SOSIAL KITA BELAJAR TENTANG ORANG LAIN DAN BERHARAP SESUATU DARI ORANG TERSEBUT MELALUI PENGAMBILAN PERAN ATAU MEMAHAMI SITUASI MELALUI PERSPEKTIF ORANG LAIN UNTUK SELANJUTANYA MEMAHAMI DIRI, APA YANG KITA LAKUKAN, DAN HARAPKAN. OLEH KARENA ITU, INTERPRETASI MENJADI FAKTOR DOMINAN DALAM MENENTUKAN TINDAKAN MANUSIA. TIDAK SEPERTI KEBANYAKAN TEORITISI PSIKOLOGIS YANG MELIHAT TINDAKAN MANUSIA BERDASARKAN PENDEKATAN RANGSANGAN DAN RESPON, AKAN TETAPI, SETELAH MANUSIA MENERIMA RESPON MAKA IA AKAN MELAKUKAN PROSES INTERPRETASI TERLEBIH DAHULU SEBELUM MENENTUKAN TINDAKAN APA YANG HARUS DIAMBIL.
Istilah keempat yang cukup mendasar dalam perspektif interaksionisme simbolik adalah konsep tentang masyarakat. Sejalan dengan konsep-konsep dasar sebelumnya, yang lebih menekankan pada pentingnya individu dan interaksi, perspektif ini lebih melihat masyarakat sebagai sebuah proses, dimana individu-individu saling berinteraksi secara terus-menerus. Blumer sendiri menegaskan bahwa masyarakat terbentuk dari aktor-aktor sosial yang saling berinteraksi dan dari tindakan mereka dalam hubungannya dengan yang lain. Jadi jelas, bahwa masyarakat merupakan individu-individu yang saling berinteraksi, saling menyesuaikan tindakan satu dengan lainnya selama berinteraksi, serta secara simbolik saling mengkomunikasikan dan menginterpretasikan tindakan masing-masing. Oleh karenanya, bisa dikatakan bahwa masyarakat merupakan produk dari individu yang dipandang sebagai aktor yang bersifat aktif dan selalu berproses.
AKHIRNYA, BISA DISIMPULKAN DISINI BAHWA INTERAKSIONISME SIMBOLIK SEBAGAI SUATU PERSPEKTIF MELALUI EMPAT IDE DASAR. PERTAMA, SISMBOLIK INTERAKSIONISME LEBIH MEMFOKUSKAN DIRI PADA INTERAKSI SOSIAL, DIMANA AKTIVITAS-AKTIVITAS SOSIAL SECARA DINAMIK TERJADI ANTAR INDIVIDU. DENGAN MEMFOKUSKAN DIRI PADA INTERAKSI SEBAGAI SEBUAH UNIT STUDI, PERSPEKTIF INI TELAH MENCIPTAKAN GAMBARAN YANG LEBIH AKTIF TENTANG MANUSIA DAN MENOLAK GAMBARAN MANUSIA YANG PASIF SEBAGAI ORGANISME YANG TERDETERMINASI. KEDUA, TINDAKAN MANUSIA TIDAK HANYA DISEBABKAN OLEH INTERAKSI SOSIAL AKAN TETAPI JUGA DIPENGARUHI OLEH INTERAKSI YANG TERJADI DALAM DIRI INDIVIDU. KETIGA, FOKUS DARI PERSPEKTIF INI ADALAH SEGALA BENTUK TINDAKAN YANG DILAKUKAN PADA WAKTU SEKARANG, BUKAN PADA MASA YANG TELAH LAMPAU. KEEMPAT, MANUSIA DIPANDANG LEBIH SULIT UNTUK DIPREDIKSI DAN BERSIKAP LEBIH AKTIF, MAKSUDNYA, MANUSIA CENDERUNG UNTUK MENGARAHKAN DIRINYA SENDIRI SESUAI DENGAN PILIHAN YANG MEREKA BUAT.
C. Aplikasi Perspektif Interaksionisme Simbolik: Upaya Memahami Fenomena Keagamaan
Sebagaimana telah diindikasikan sebelumnya bahwa mengaplikasikan suatu perspektif dalam sosiologi untuk menjelaskan fenomena keagamaan bukanlah sesuatu yang mudah, mengingat setiap perspektif memiliki karakteristik masing-masing. Tidak sedikit suatu penelitian yang diklaim bersifat sosiologis terjebak hanya mengupas masalah peran dan fungsi sosial agama sehingga terkesan abstrak dan dangkal. Padahal kalau kita mau lebih jauh melihat perspektif-perspektif yang ada dalam sosiologi maka akan terpampang berbagai alternatif untuk mengupas suatu fenomena keagamaan secara lebih mendalam.
Sebenarnya, hal pertama yang harus dilakukan ketika kita memutuskan untuk menggunakan perspektif sosiologis dalam mengungkap fenomena keagamaan yang ada adalah dengan mengkaji terlebih dahulu fenomena tersebut. Apakah fenomena itu mencakup sistem keagamaan secara menyeluruh ataukah hanya mengupas salah satu aspek dari sistem keagamaan saja, misalnya mengupas masalah ritualnya saja, atau masalah penggunaan identitas keagamaan. Keluasan sekup permasalahan yang ingin diungkap tentu saja akan berpengaruh terhadap pemilihan perspektif yang tepat. Selain itu, untuk menghindari kesulitan dalam standar keluasan obyek yang masuk dalam kategori makro atau mikro, kita dapat memanfaatkan istilah-istilah kunci dalam masing-masing perspektif yang biasanya menunjukkan bidang kajian yang dominan dari masing-masing perspektif. Perspektif konflik, misalnya, menekankan pada konsep-konsep dasar tentang ketidakadilan, kekuasaan, konflik, kompetisi, dan eksploitasi. Ketika kita ingin mengungkap masalah keterkaitan antara agama dengan konsep-konsep tersebut, misalnya tentang gerakan keagamaan yang terjun langsung ke dunia politik praktis, mungkin akan lebih menarik kita menggunakan perspektif konflik ini sebagai pisau analisisnya. Karena tidak ada satu pun perspektif yang mampu untuk mengungkap seluruh realitas sosial, maka ketepatan dalam memilih perspektif tentu saja akan sangat berpengaruh pada hasil akhir dari suatu penelitian. Terlebih lagi, hal ini juga terkait dengan metode penelitian yang akan digunakan sebab biasanya masing-masing perspektif juga merekomendasikan metode penelitian yang berbeda seperti yang disarankan oleh para pengusung dari masing-masing perspektif.
Dalam bagian akhir dari tulisan ini, kita akan mencoba melihat bagaimana perspektif interaksionisme simbolik bisa diaplikasikan dalam memahami fenomena keagamaan. Untuk bisa mendapatkan hasil analisis yang maksimal, setidaknya langkah awal yang perlu untuk dipahami terlebih dahulu adalah mencoba menganalisis kira-kira fenomena keagamaan seperti apa yang pas untuk dibidik melalui perspektif ini. Sebagaimana yang telah kita pahami bahwa perspektif interaksionisme simbolik memberikan penekanan pada beberapa konsep, seperti: simbol, makna, interaksi, dan definisi. Dengan kata lain, perspektif ini memfokuskan perhatiannya pada peran makna dalam kehidupan manusia, terutama cara-cara mereka dalam menggunakan simbol-simbol dalam berinteraksi dengan sesamanya. Oleh karena itu, aspek simbol-simbol keagamaan, ritual, kepercayaan, pengalaman keagamaan serta komunitas keagamaan merupakan unit-unit yang sesuai intuk diungkapkan lebih jauh melalui perspektif interaksionisme simbolik.
Sebagai contoh, katakanlah kita ingin melakukan suatu penelitian tentang otoritas kyai dalam kehidupan keseharian di pesantren. Dengan menggunakan perspektif interaksionisme simbolik maka penggalian data yang akan dilakukan bisa merangkum keempat aspek keagamaan sebagaimana telah disebutkan diatas atau bahkan cukup salah satu aspek saja untuk merekonstruksi bagaimana sebenarnya otoritas tersebut berjalan dan pengaruhnya bagi komunitas pesantren lainnya, khususnya mungkin dikalangan santri sebagai salah satu komponen utama dalam sebuah pesantren disamping kyai. Dari aspek simbol keagamaan saja, mungkin kita bisa menjabarkan lebih jauh berbagai macam simbol yang sering dijadikan media untuk menunjukkan otoritas kyai. Tentu saja, pengertian simbol dalam perspektif ini tidak terbatas pada obyek benda saja, akan tetapi juga meliputi segala macam tindakan manusia.
Dengan mengungkapkan berbagai simbol, misalnya dari obyek benda, sorban mungkin bisa menjadi salah satu wujud simbol yang membedakan antara kyai dengan santri. Selain berfungsi sebagai identitas, sorban mungkin juga bisa memiliki makna yang lebih jauh, misalnya menunjukkan tingginya ilmu yang dimiliki oleh kyai atau merupakan gambaran keshalehan sang pemakai atau bahkan menunjukkan sosok yang perlu untuk dihormati dan disegani. Interpretasi-interpretasi terhadap simbol semacam ini bisa jadi hanya akan muncul dikalangan santri saja, mungkin bagi masyarakat umum, sorban akan memiliki makna yang berbeda.
Selain itu, kita juga perlu untuk mengungkapkan simbol-simbol yang berwujud perilaku yang secara langsung bisa kita indikasikan sebagai salah satu komponen yang bisa menggambarkan otoritas kyai, misalnya perilaku santri yang biasanya berebut untuk berjabat tangan dan mencium tangan kyai. Perilaku ini bisa jadi merupakan suatu bentuk penghormatan akan otoritas yang dimiliki oleh sang kyai. Bahkan mungkin kita bisa menemukan bentuk tindakan lain yang menyimbolkan begitu besarnya otoritas sang kyai dimata santrinya. Kebiasaan untuk berebut sisa minuman kyai mungkin merupakan contoh yang bisa diungkapkan lebih jauh maknanya.
Langkah selanjutnya, setelah kita mengungkapkan berbagai makna simbolik tersebut kita bisa lebih jauh mengamati bagaimana interaksi sosial yang terjadi diantara mereka. Sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya bahwa proses pendefinisian dan pendefinisin kembali terhadap diri akan senantiasa terjadi selama proses interaksi sosial berlangsung, maka perhatian terhadap jalannya interaksi sosial diantara santri dan kyai menjadi kunci penting untuk merekonstruksi bagaimana sebenarnya otoritas kyai berpengaruh terhadap perilaku santri. Ketika seorang santri, misalnya, sudah mendefinisikan kyai sebagai sosok yang wajib dipatuhi dan disegani, maka kita bisa melihat bahwa berbagai bentuk perilaku yang dianggap “aneh” akan bisa dijelaskan lebih jauh. Dari sini, mungkin kita bisa lebih jauh mengungkapkan premis dari perspektif ini bahwa masyarakat merupakan hasil dari individu yang saling berinteraksi dengan menunjukkan kesamaan interpretasi makna diantara santri terhadap simbol-simbol tertentu yang menyatukan mereka ke dalam sebuah masyarakat moral, yaitu komunitas pesantren. Disini para santri memiliki rasa keterikatan yang sama terhadap suatu simbol, yang mungkin juga diperkuat oleh aspek keagamaan lain seperti kepercayaan dan ritual, dimana pada saat yang bersamaan mereka juga memisahkan diri dengan masyarakat di luar pesantren yang tidak memeliki kesamaan dan berbagi dalam dunia simbol tersebut. Konsep kesamaan simbol yang kemudian secara otomatis menjadi identitas bersama secara tidak langsung menunjukkan keunikan sistem interaksi yang mereka miliki melalui berbagai macam aturan perilaku yang berbeda dengan masyarakat lainnya, khususnya ketika mereka mendudukkan kyai sebagai satu-satunya figur yang patut untuk dihormati dan dicontoh dalam segala aspek kehidupan.
Dengan memanfaatkan perspektif interaksionisme simbolik dalam memahami fenomena otoritas kyai, gambaran yang muncul akan lebih berkenaan dengan kehidupan sehari-hari di dunia pesantren melalui penafsiran berbagai macam simbol dan model-model interaksi sosial yang muncul dalam komunitas tersebut. Mungkin apabila kita menggunakan perspektif lain, misalnya perspektif konflik, maka fokus otoritas akan lebih dikaitkan dengan masalah distribusi kekuasaan di pesantren, termasuk didalamnya media-media yang digunakan untuk melegitimasi otoritas tersebut. Terlebih lagi, perspektif ini juga menawarkan metodologi yang cukup menarik untuk mengungkapkan kehidupan keagamaan sehari-hari, yaitu melalui penggabungan metode etnografi dan sosiologi kualitatif. Hal ini tercermin dari pendekatan induktif yang diterapkan oleh pencetus perspektif ini, Blumer, yang berbeda dengan perspektif fungsionalism yang selalu berangkat dari serangkaian hipotesis. Hal ini tentu saja akan memberikan keleluasaan kepada peneliti untuk memunculkan fenomena keagamaan sehari-hari secara lebih natural. Terlebih lagi, perangkat untuk pengumpulan data juga melalui prosedur yang fleksibel, yaitu eksplorasi dan inspeksi. Setelah itu, barulah analisis kualitatif digunakan untuk menginterpretasikan data-data yang diperoleh di lapangan.
Akhirnya, mungkin kita perlu memperbanyak tulisan-tulisan tentang perspektif-perspektif sosiologis yang bersifat aplikatif melalui berbagai macam contoh kasus untuk lebih bisa memasyarakatkan perspektif-perspektif alternatif dalam sosiologi sebab pemilihan perspektif hanyalah terkait dengan masalah seberapa jauh perspektif tersebut bisa digunakan untuk menjawab permasalahan yang ingin diungkapkan melalui sebuah penelitian. Selain itu, seorang sosiolog memang tidak memiliki kewenangan untuk menilai kebenaran sebuah perspektif akan tetapi, sekali lagi, wewenangnya hanyalah sebatas menentukan perspektif mana yang paling bermanfaat untuk mengungkap fenomena sosial tertentu.


* Achmad Zainal Arifin, MA, alumni program master Sosiologi di University of Northern Iowa (2006) melalui program beasiswa Fulbright dan alumni program master Ilmu Perbandingan Agama CRCS-UGM (2003).


Daftar Pustaka
Alexander, Jeffrey C. (Ed.), Neofunctionalism (California: Sage Publications, 1985).

BALLANTINE, JEANNE H. DAN LEONARD CARGAN, SOCIOLOGICAL FOOTPRINTS (BELMONT: WADSWORTH, 2002).

Berger, Peter L. dan Thomas Luckmann, The Social Construction of Reality (New York: Anchor Books, 1966).

BERGER, PETER L., INVITATION TO SOCIOLOGY (NEW YORK: ANCHOR BOOKS, 1963).

Blumer, Herbert, Symbolic Interactionism: Perspective and Method (New Jersey: Prentice Hall, 1969).

CHARON, JOEL M., SYMBOLIC INTERACTIONISM (NEW JERSEY: PRENTICE HALL, 1995).

Coser, Lewis, The Functions of Social Conflict (Glencoe: The Free Press, 1956).

CRESWELL, JOHN W., RESEARCH DESIGN: QUALITATIVE, QUANTITATIVE, AND MIXED METHODS APPROACHES (CALIFORNIA: SAGE PUBLICATION, 2003).

Crow, Graham, Comaparative Sociology and Social Theory (New York: St. Martin’s Press, 1997).

DAHRENDORF, RALF, “OUT OF UTOPIA: TOWARD A REORIENTATION OF SOCIOLOGICAL ANALYSIS,” AMERICAN JOURNAL OF SOCIOLOGY 64 (1958), HLM.127-130.

Dahrendorf, Ralf, Class and Class Conflict in Industrial Society (Stanford, CA: Stanford University Press, 1959).

GERTH DAN MILLS, FROM MAX WEBER: ESSAYS IN SOCIOLOGY (NEW YORK: OXFORD UNIVERSITY PRESS, 1958).

Goffman, Erving, Asylums: Essays on the Social Situation of Mental Patients and other Inmates (New York: Anchor Books, 1961).

GUTIERREZ, GUSTAVO, TEOLOGI PEMBEBASAN (YOGYAKARTA: JENDELA, 2001).

Henslin, James M., Sociology: A Down to Earth Approach (Boston: Allyn and Bacon, 1995).

KIVISTO, PETER, KEY IDEAS IN SOCIOLOGY (CALIFORNIA: PINE FORGE PRESS, 1998).

Kornblum, William, Sociology: The Central Questions (Orlando, Harcourt Brace, 1998).

LAZARSFELD, PAUL DAN JEFFREY REITZ, “HISTORY OF APPLIED SOCIOLOGY.” SOCIOLOGICAL PRACTICE, 7, 1989: 43-52.

Merton, Robert K., Social Theory and Social Structure (New York: Free Press, 1968).

NEUMAN, SOCIAL RESEARCH METHODS: QUALITATIVE AND QUANTITATIVE APPROACHES (BOSTON: ALLYN AND BACON, 2000).

Nitiprawiro, Francis Wahono, Teologi Pembebasan: Sejarah, Metode, Praksis dan Isinya (Yogyakarta : LKiS, 2000).

Pressler, Charless A. dan Fabio B. Dasilva, Sociology and Interpretation: from Weber to Habermas (New York: State University of New York Press, 1996).

RITZER, GEORGE, SOCIOLOGICAL THEORY (NEW YORK: MCGRAW-HILL COMPANIES, 2000).

Sanderson, Stephen K., Sosiologi Makro (Jakarta: Rajawali Press, 1995).

SCHUTZ, ALFRED, THE PHENOMENOLOGY OF SOCIAL WORLD (EVANSTON, IL: NORTHWESTERN UNIVERSITY PRESS, 1967).

Turner, Jonathan H., Leonard Beeghley, dan Charles H. Powers, The Emergence of Sociological Theory (Orlando: Wadsworth Publishing Company, 1995).

TURNER, JONATHAN H., THE STRUCTURE OF SOCIOLOGICAL THEORY, 7TH EDITION (BELMONT: WADSWORTH/THOMPSON LEARNING, 2003).

WALLACE, RUTH A. DAN ALISON WOLF, CONTEMPORARY SOCIOLOGICAL THEORY (NEW JERSEY: PRENTICE HALL, 1991).

Westby, David L., The Growth of Sociological Theory (New Jersey: Prentice Hall, 1991).

ZIETLIN, IRVING M., MEMAHAMI KEMBALI SOSIOLOGI (YOGYAKARTA: GADJAH MADA UNIVERSITY PRESS, 1995).



Continue Reading...

Rabu, 07 Oktober 2009

Manajemen Kepemimpinan



Oleh:
Zusiana Elly Triantini M.SI
Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Teori Dalam Manajemen Kepemimipinan
Teori Motivasi

Motivasi
Pengertian :
  • Motivasi adalah dorongan psikologis dalam diri seseorang yang dimanifestasikan dalam tingkah laku individual
  • Memotivasi adalah proses manajemen untuk mempengaruhi individu lain/bawahan agar berperilaku tertentu
Rentang perilaku
Fokus dari motivasi : dapat dipengaruhi oleh dua hal yaitu Reflek dan Kebiasaan

Asumsi Dasar Mengenai Motivasi
  • Motivasi diasumsikan dengan segala sesuatu yang baik
  • Motivasi hanya salah satu dari banyak faktor yang mempengaruhi prestasi kerja individu
  • Motivasi mempunyai kadar yang bisa berkurang atau bertambah
  • Motivasi merupakan tools untuk mengatur hubungan kerja
Model-Model Motivasi
  • Model Tradisional (Frederick Taylor)
  • Model Hubungan Manusia (Elton Mayo)
  • Model Sumberdaya Manusia (McGregor & A. Maslow)
Slide 6
Model Motivasi
kebijakan

Slide 1
Model Tradisional
1. Perlu pengawasan
dan pengendalian yg
ketat
2. Pembagian
pekerjaan harus
sampai detail
3. Membuat prosedur
operasi standar yang
rinci

Slide 1
Model Hubungan
Manusia
1. Karyawan harus
dibuat berguna dan
penting
2. Informasi dari atas
maupun dari bawah
3. Harus ada peluang
agar bawahan dapat
mengarahkan dan
mengendalikan
dirinya (untuk
kegiatan rutin)


Slide 1
Model Sumberdaya
Manusia
1. Memberdayakan
SDM yang ada
2. Ciptakan lingkungan
kerja agar semua
SDM dapat
berkontribusi
3. Harus didorong agar
SDM dapat
berpartisipasi penuh



Teori Motivasi (1 dari 10)
5 teori mengenai memotivasi
  • Teori Kebutuhan (need theory)
  • Teori Keadilan (equity theory)
  • Teori Penguatan (reinforcement theory)
  • Teori Harapan (expectancy theory)
  • Teori Penetapan Sasaran (goal setting theory)


Teori Kebutuhan
  • Umumnya, acuan tingkat2 kebutuhan individu yg digunakan adalah seperti yang telah dikemukakan oleh Abraham Maslow (lihat slide Aliran Perilaku)
  • Individu akan dimotivasi oleh kebutuhan yang paling menonjol
  • Alasan implementasi teori ini :
  1. Hubungan kerja yang kompleks antara individu yang mempunyai berbagai tingkat kebutuhan yang sangat beragam
  2. Kebutuhan individu akan berubah-ubah dan lingkungan merupakan faktor yang paling kuat mendorong naik/turunnya tingkat kebutuhan


Teori Kebutuhan Kebutuhan individu :
Menurut Clayton Alderfer (ERG theory) :
  • Kebutuhan akan eksistensi (existence)
  • Kebutuhan akan keterkaitan (relatedness)
  • Kebutuhan akan pertumbuhan (growth)
Menurut John W. Atkinson dan David Mc Clelland
  • Kebutuhan untuk berprestasi
  • Kebutuhan kekuatan
  • Kebutuhan untuk berafiliasi (berhubungan dekat dengan seseorang)
Teori Keadilan (equity theory)
  • Motivasi akan muncul apabila mereka mendapatkan kepuasan atas penghargaan yang diterima itu sebanding dengan usaha yang mereka keluarkan
  • Keadilan : rasio usaha/imbalan harus sama dengan karyawan lain
  • Rasa keadilan mempunyai nilai ambang yang sangat dipengaruhi oleh pengalaman (sejarah) ketidakadilan
Teori Harapan (expectancy theory)
Individu akan termotivasi apabila mereka melihat adanya suatu keuntungan dari kombinasi antara kepentingan dan harapan mereka dimasa mendatang
Harapan yang sering memotivasi :
  • Hasil kerja
  • Usaha/prestasi kerja (proses pencapaian)
  • Valensi (valence)/kepentingan
Berkaitan dengan imbalan yang diperoleh :
  • imbalan intrinsik > kepuasan, harga diri, dsb
  • imbalan ekstrinsik > bonus, pujian, promosi, dsb
Teori Harapan (lanjutan)
Rekomendasi untuk para pemimpin :
  • Tentukan imbalan yang bernilai bagi setiap karyawan
  • Tentukan prestasi kerja yang diinginkan
  • Tentukan tingkat prestasi kerja yang dapat dicapai
  • Gambarkan hubungan antara imbalan dan prestasi kerja
  • Pastikan bahwa imbalan tsb cukup memadai
  • Antisipasi faktor-faktor yang menyebabkan sistem imbalan berakibat sebaliknya
Teori Penguatan (reinforcement theory)
Motivasi sangat dipengaruhi oleh pengalaman individu dimasa lalu, sehingga tingkah laku dengan konsekuensi yang positif cenderung untuk diulang, demikian pula sebaliknya
Berdasarkan teori ini, maka dapat dilakukan modifikasi tingkah laku dengan :
  • Positive reinforcement > tingkah laku positif didorong
  • Avoidance learning > cegah belajar tingkah laku negatif
  • Extinction > padamkan tingkah laku negatif yg terjadi
  • Punishment > hukum bila melakukan tingkah laku negatif

Teori Penguatan (lanjutan)
Peraturan W. Clay Hammer untuk menggunakan teori ini :
  • Jangan memberi imbalan untuk semua individu dengan cara yang sama
  • Sadari, bahwa kegagalan dalam memberi imbalan dapat juga mengubah tingkah laku
  • Umumkan bahwa apa yang bisa dilakukan oleh semua orang agar mendapatkan imbalan positif
  • Apabila seseorang melakukan kesalahan, harus segera diberitahu (termasuk hukuman yang diberikan)
  • Jangan menghukum didepan orang lain
  • Bersikaplah adil
Teori ini banyak dikritik, karena menganggap bahwa tingkah laku manusia dapat dikendalikan

Teori Motivasi
Teori Penetapan Sasaran (goal-setting theory)
Individu akan termotivasi untuk berusaha mencapai sasaran, apabila yg bersangkutan mengetahui, memahami dan menerima sasaran tsb
Teori ini merupakan penggabungan teori harapan dan teori penguatan
Cara menentukan sasaran :
  1. Tetapkan standar yang akan dicapai
  2. Evaluasi apakah standar tsb dapat dicapai
  3. Evaluasi apakah standar tsb sesuai dengan sasaran pribadi
  4. mereka
  5. Apabila standar diterima, maka sasaran telah ditetapkan


Continue Reading...

MY WIDGETBLOG

Banner Exhange!
Kopi kode di bawah ini untuk memasang banner/button tersebut
 

FOLLOWERS

TUKERAN LINK

MAU TUKERAN LINK MA AQ NI DIA BANNERQ : Banner Exhange!
Kopi kode di bawah ini untuk memasang banner/button tersebut KALO UDAH KONFIRMASI LEWAT SHOUMIX OK!

IT'S BLACK Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template